Tiga Faktor Pemicu Banjir di Jalur Wisata Cisantana

  • 21 Mei 2026 11:32 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Kuningan - Hujan deras yang mengguyur kawasan penyangga Gunung Ciremai pada Sabtu 16 Mei 2026 lalu mengakibatkan air limpasan meluap hingga memenuhi Jalan Raya Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan. Luapan air bercampur lumpur itu sempat mengganggu arus lalu lintas di jalur wisata menuju Palutungan dan Ipukan.

Warga setempat, Elang, menduga limpasan air terjadi akibat buruknya sistem drainase di kawasan tersebut. “Diduga terjadinya limpasan air tersebut akibat adanya penyumbatan pada drainase atau gorong-gorong,” ujarnya Kamis 21 Mei 2026.

Menanggapi kondisi itu, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Kuningan langsung melakukan survei lapangan dan menyusun langkah penanganan. Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUTR Kabupaten Kuningan, Teddy Sukmajayadi, menjelaskan ruas Cigugur–Palutungan merupakan aset pemerintah daerah. Namun akses menuju kawasan wisata Ipukan dari Simpang Palutungan berstatus non-jalan kabupaten.

“Untuk kawasan Cisantana, kita menyebutnya itu ruas Cigugur-Palutungan yang merupakan aset pemerintah daerah. Namun untuk akses strategis menuju kompleks wisata area Ipukan dari simpang Palutungan menuju Ipukan, itu memang kawasan wisata yang statusnya non-jalan kabupaten,” ujarnya.

Ia mengatakan, persoalan limpasan air mulai terlihat setelah pengaspalan jalur Palutungan–Ipukan pada 2023 lalu. Menurutnya, kapasitas drainase di sejumlah titik masih terlalu kecil untuk menampung debit air hujan dari kawasan atas. “Pasca-pengaspalan PUTR di tahun 2023 untuk segmen Palutungan-Ipukan, drainase yang ada di sepanjang jalan Ipukan ini kondisi eksisting memang di beberapa titik kecil,” katanya.

Selain itu, pihaknya juga menemukan beberapa catatan teknis saat melakukan survei lanjutan bersama Pemerintah Desa Cisantana dan Kecamatan Cigugur.

Tiga Penyebab Utama Banjir Limpasan

Berdasarkan hasil peninjauan lapangan, PUTR mengidentifikasi tiga faktor utama penyebab banjir limpasan di kawasan tersebut. Pertama, ukuran gorong-gorong dan drainase menuju kawasan permukiman maupun resto dinilai terlalu kecil.

“Beberapa crossing menuju kawasan resto, rumah makan, dan pemukiman yang kita inventarisir diameternya kecil. Khusus untuk yang masuk ke kawasan pemukiman, itu rata-rata drainasenya hanya diameter 20 sampai 30 senti,” kata Teddy.

Kedua, saluran pembagi air atau saluran boyoran yang biasa digunakan warga untuk mengairi tanaman tidak berfungsi optimal saat hujan deras. “Di beberapa titik itu memang kurang berfungsi,” ujarnya.

Ketiga, banyaknya hambatan di dalam drainase seperti selang air milik warga dan sampah kiriman yang menyumbat gorong-gorong.

“Saluran yang kita bangun memang terkendala oleh banyaknya saluran selang milik air bersih masyarakat. Saat hujan melanda juga ada kiriman sampah yang menyumbat di beberapa gorong-gorong,” jelasnya.

Selain itu, terdapat titik penyempitan jalan di area tikungan sebelum Sukageuri yang membuat pelebaran drainase sulit dilakukan. “Segmen jalan yang sebelum ke Sukageuri, yang di tikungan itu memang relatif kecil,” tambah Teddy.

Akibat berbagai hambatan tersebut, air hujan dari kawasan atas menumpuk di Simpang Palutungan hingga depan kawasan wisata Arunika. “Nah saat hujan dikirim dari kawasan lebih atas, memang semua air ini menumpuk ke titik jalan Palutungan, simpang Palutungan ke area depan Arunika,” katanya.

Untuk penanganan jangka pendek, PUTR bersama Pemerintah Desa Cisantana akan melakukan pembersihan drainase dan pembongkaran trotoar yang menutupi saluran air. “Insya Allah mungkin besok atau lusa, ada beberapa trotoar yang menutupi saluran air ini akan kita bongkar dan kita perbanyak dulu inlet,” ujar Teddy.

Selain itu, pihaknya juga akan mencari titik saluran pembagi air menuju sungai di bawah kawasan permukiman agar limpasan air tidak lagi menumpuk di jalan raya. “Harus dibuat satu aliran air pembagi yang relatif besar,” katanya.

Sementara untuk penanganan jangka panjang, PUTR akan mengusulkan pembangunan drainase permanen, termasuk opsi pembebasan lahan agar bahu jalan dan saluran air dapat diperlebar.

“Mungkin ke depannya ada beberapa bangunan juga yang akan kita usulkan untuk menjadi target pembebasan sehingga bahu jalan bisa lebih lebar dan saluran kita bisa buat lebih besar,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....