DKP3 Kota Cirebon Pastikan Hewan Kurban Terindikasi Sakit Segera Diisolasi

  • 13 Mei 2026 17:58 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Cirebon memastikan pengawasan kesehatan hewan kurban dilakukan secara ketat menjelang Iduladha. Hewan yang terindikasi sakit atau memiliki gejala penyakit menular akan langsung diisolasi dan tidak diperbolehkan dijual.

Kepala Bidang Pertanian dan Peternakan DKP3 Kota Cirebon, Kukuh Gunatama mengatakan, para pedagang justru menyambut baik pemeriksaan kesehatan yang dilakukan petugas. Menurutnya, adanya jaminan kesehatan dari dinas dapat meningkatkan kepercayaan pembeli terhadap hewan kurban yang dijual.

“Pedagang justru senang karena dengan ada jaminan dari kami bahwa hewan tersebut sehat, nilai jualnya juga bisa bertambah,” ucapnya dalam pada program Dialog Cirebon Menyapa edisi Rabu, 13 Mei 2026. Ia menyebut pemeriksaan kesehatan menjadi keuntungan bagi pedagang maupun masyarakat sebagai calon pembeli.

DKP3 Kota Cirebon juga menyiapkan langkah penanganan apabila ditemukan hewan yang sakit saat pemeriksaan lapangan. Hewan tersebut akan diarahkan untuk diisolasi dan tidak diperjualbelikan sampai dinyatakan sehat kembali.

“Kami arahkan penjual untuk mengisolasi hewan yang sakit dan terus berkoordinasi dengan petugas agar dapat dilakukan pemeriksaan lanjutan,” ujar Kukuh. Ia menegaskan pengawasan dilakukan hingga hewan benar-benar layak untuk dijual kepada masyarakat.

Selain itu, DKP3 memastikan hingga saat ini Kota Cirebon masih nol kasus antraks pada hewan ternak. Pengawasan lalu lintas hewan juga terus diperketat guna mencegah masuknya hewan yang terjangkit penyakit berbahaya tersebut.

Kukuh menjelaskan, hewan yang terindikasi antraks biasanya menunjukkan perilaku gelisah, sesak napas, hingga mengalami kejang. Masyarakat diminta segera menghubungi dokter hewan atau DKP3 Kota Cirebon apabila menemukan gejala tersebut pada hewan ternak.

Selain antraks, masyarakat juga diminta mewaspadai gejala Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan Lumpy Skin Disease (LSD). Pada hewan yang terkena PMK biasanya terdapat lendir berlebih di mulut, sariawan, kuku terlepas, serta kondisi tubuh yang lemah hingga tidak mampu berdiri.

Sementara pada hewan yang terjangkit LSD muncul benjolan atau kropeng pada bagian tubuh hewan. Meski demikian, Kukuh memastikan PMK dan LSD tidak bersifat zoonosis atau tidak menular kepada manusia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....