Cegah Penculikan Anak, UPT PPA Kota Cirebon Tekankan Peran Orang Tua

  • 14 Apr 2026 15:45 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Peran orang tua menjadi faktor utama dalam mencegah terjadinya penculikan dan kekerasan terhadap anak. Upaya pencegahan tersebut harus dilakukan melalui edukasi yang konsisten sejak dini.

Hal tersebut disampaikan menyusul merebaknya kasus dugaan penculikan anak di Kota Cirebon yang menjadi perhatian publik dan memunculkan kekhawatiran di kalangan masyarakat. Demikian dikatakan Kepala UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Cirebon Linda Desyani kepada RRI saat Dialog Menyapa Pagi. Selasa, 14 April 2026.

Linda menyampaikan dalam penanganan kasus, pihaknya berfokus pada pemulihan korban sebagai penyintas. Anak yang mengalami kejadian traumatis seperti penculikan berpotensi menghadapi dampak psikologis jangka panjang, sehingga membutuhkan pendampingan dan penguatan secara berkelanjutan agar dapat pulih sepenuhnya.

"Fokus kami sebenarnya kepada korban, Apa yang harus kita siapkan untuk mendampingi korban, Anak ini adalah penyintas, Ia berhasil keluar dari kejadian mengerikan sehingga pemulihan mental sangat penting" ujar Linda kepada RRI.

Namun, di sisi lain, Linda menekankan bahwa upaya pencegahan tetap menjadi prioritas yang harus dimulai dari lingkungan keluarga, khususnya orang tua. Menurutnya, orang tua perlu secara konsisten mengajarkan anak tentang konsep keamanan, termasuk cara mengenali orang asing dan berani menolak ajakan yang mencurigakan.

"Anak tidak serta-merta mengetahui apa itu bahaya. Oleh karena itu, pesan tentang keamanan harus disampaikan secara terus-menerus dan konsisten," katanya.

Linda juga mengingatkan pentingnya membangun keberanian anak untuk berkata 'tidak' terhadap hal-hal yang tidak aman, meskipun tawaran tersebut terlihat sederhana seperti pemberian makanan atau hadiah. Untuk mempermudah pemahaman anak, Linda menyarankan orang tua memberikan pemahaman secara konkret melalui simulasi atau role play.

"Anak harus dikenalkan untuk berani menolak. Ketika bertemu orang asing, mereka harus mampu membedakan mana orang yang aman dan mana tempat yang aman untuk berlindung," ucapnya.

Selain itu, anak juga perlu diajarkan untuk mencari bantuan ke pihak berwenang atau tempat aman ketika berada di ruang publik. Lebih jauh, Linda mengingatkan pentingnya edukasi mengenai batasan tubuh sebagai bagian dari perlindungan diri. Komunikasi yang hangat dan terbuka antara orang tua dan anak menjadi kunci agar anak merasa aman untuk bercerita jika mengalami sesuatu yang tidak diinginkan.

"Anak harus mengetahui tentang batasan diri dan organ tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain. Ini bagian dari pendidikan seks usia dini yang sangat penting. Komunikasi yang baik akan membuat anak tidak takut untuk melapor jika ada hal yang mengancam," ujar Linda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....