Warga Binaan Ciptawening Kuningan Bertahan Hidup Dengan Singkong

  • 05 Apr 2026 19:39 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Kuningan - Di tengah klaim hadirnya negara dalam penanganan masalah sosial, realitas berbeda justru tampak di Padepokan Ciptawening, Desa Subang, Kabupaten Kuningan. Puluhan warga binaan yang terdiri dari penyintas penyalahgunaan narkoba, Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), serta individu dengan berbagai persoalan psikologis dan sosial—harus bertahan hidup dengan mie instan dan singkong selama dua bulan terakhir.

Mereka bukan angka statistik. Mereka adalah orang-orang yang sedang berjuang kembali ke kehidupan normal, mencoba bangkit dari keterpurukan. Namun ironisnya, di tengah proses pemulihan itu, kebutuhan paling mendasar justru belum terpenuhi secara layak.

Di padepokan tersebut, keseharian berjalan dalam keterbatasan. Menu sederhana yang sama tersaji hampir setiap hari, sekadar untuk mengganjal perut. Kondisi ini menjadi potret getir yang memunculkan tanda tanya besar tentang peran pemerintah dalam memastikan keberlangsungan lembaga rehabilitasi.

Pengasuh padepokan, Mukdiana atau Kang Iyan, menyebut situasi ini sudah berlangsung cukup lama. Panti yang dikelola secara mandiri itu kerap kesulitan memenuhi kebutuhan logistik karena minimnya dukungan berkelanjutan.

“Kondisinya saat ini memang memprihatinkan. Untuk makan sehari-hari, kami hanya bisa mengandalkan mie instan atau singkong dari kebun. Ini sudah berlangsung sekitar dua bulan,” ujar Kang Iyan kepada RRI Cirebon, Minggu, 5 April 2026.

Bagi para warga binaan, tempat itu adalah ruang harapan tempat mereka menjalani proses rehabilitasi, menata ulang hidup, dan berusaha kembali diterima di tengah masyarakat. Namun, keterbatasan pangan membuat perjuangan mereka semakin berat.

Situasi ini memunculkan kritik terhadap Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan. Di tengah kompleksitas persoalan sosial yang ditangani lembaga seperti Ciptawening, perhatian yang diberikan dinilai belum menyentuh kebutuhan dasar secara konsisten.

“Kami berharap ada perhatian lebih nyata dari pemerintah daerah. Bantuan yang ada belum mampu menutupi kebutuhan pokok secara rutin,” katanya.

Kondisi ini memperlihatkan ironi. Di satu sisi, lembaga rehabilitasi seperti Padepokan Ciptawening ikut memikul beban penanganan masalah sosial daerah. Namun di sisi lain, mereka harus berjuang sendiri menjaga keberlangsungan hidup para warga binaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....