​Warga dan Penjaga Hutan Merawat Ekosistem Gunung Ciremai

  • 29 Jan 2026 20:53 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Kuningan - Upaya pelestarian Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) terus diperkuat melalui skema kemitraan konservasi yang melibatkan masyarakat sekitar kawasan hutan.

Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) menilai keterlibatan warga sebagai penjaga kawasan menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mendukung pengembangan wisata alam berkelanjutan.

Perwakilan SPTN Wilayah II Majalengka, Halu Oleo, mengatakan masyarakat memiliki kepentingan langsung terhadap kelestarian kawasan, terutama dalam menjaga sumber daya air yang menjadi penopang kehidupan.

“Masyarakat sebenarnya punya kepentingan besar terhadap kelestarian hutan, salah satunya untuk menjaga keberadaan sumber air,” ujar Halu Oleo.

Kesadaran tersebut mendorong partisipasi aktif warga dalam menjaga kawasan. Melalui kemitraan konservasi, sejumlah kelompok masyarakat terlibat langsung dalam perlindungan vegetasi di sekitar mata air. Salah satunya Koperasi Cipeti yang berperan menjaga tutupan alami di wilayah sumber air.

Selain perlindungan, BTNGC juga melibatkan masyarakat dalam pemulihan ekosistem. Pada 2026, rehabilitasi lahan direncanakan dilakukan di area seluas 100 hektare melalui pola kemitraan konservasi.

“Masyarakat terlibat mulai dari pembibitan, penanaman, hingga pemeliharaan tanaman,” kata Halu Oleo kepada RRI, Kamis, 29 Januari 2026 di Balai Taman Nasional Gunung Ciremai.

Ia menambahkan, identifikasi pohon yang berpotensi membahayakan pengunjung wisata dilakukan secara selektif bersama masyarakat. Penebangan, menurutnya, hanya dilakukan untuk alasan keselamatan dan tidak mengurangi tutupan hutan.

“Setiap pohon yang harus ditebang karena membahayakan, pasti langsung diganti dengan bibit baru,” ucapnya.

Pengelolaan kawasan TNGC dijalankan melalui konsep 3P, yakni perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan lestari. Pada aspek perlindungan, BTNGC menggandeng Masyarakat Mitra Polhut (MMP) serta Masyarakat Peduli Api (MPA) dalam patroli dan pengamanan kawasan. Sementara pengawetan dilakukan melalui rehabilitasi lahan dan pelestarian keanekaragaman hayati.

Adapun pemanfaatan lestari diarahkan pada pengembangan wisata alam berbasis konservasi yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.

Perubahan status Gunung Ciremai dari hutan produksi menjadi kawasan konservasi turut menuntut perubahan pola pikir masyarakat. Sebagai bentuk dukungan, BTNGC menyalurkan bantuan usaha ekonomi produktif di luar kawasan hutan. Pada 2026, delapan kelompok masyarakat di wilayah Majalengka menerima bantuan yang disesuaikan dengan kebutuhan, mulai dari alat pertanian hingga perlengkapan evakuasi untuk jasa pendakian.

Pengelola Wisata Tegaskan Komitmen Konservasi

Menanggapi isu dampak pariwisata terhadap lingkungan, pengelola objek wisata Mumunggang Tenjo Laut menegaskan komitmennya terhadap prinsip konservasi. Sekretaris Koperasi Jasa Tiga Pusaka Sejahtera, Dedi Sumardi, menyebut kemitraan antara Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan TNGC telah berjalan hampir 12 tahun, sejak 2016.

“Pokdarwis di kawasan TNGC berada langsung di bawah naungan Kementerian Kehutanan, sehingga aturan konservasi diterapkan secara ketat,” kata Dedi.

Terkait isu berkurangnya debit air, Dedi menilai persoalan tersebut tidak berkaitan langsung dengan aktivitas wisata di kawasan selatan TNGC.

“Kekurangan air itu memang ada karena pengusaha-pengusaha nakal di wilayah utara yang menjual air tanpa izin,” ujarnya.

Ia memastikan ketersediaan air di kawasan Tenjo Laut masih terjaga. Dalam pengelolaan kawasan, setiap pohon yang tumbang wajib diganti dengan penanaman kembali.

“Kalau satu pohon tumbang, kami wajib menggantinya dengan menanam 10 pohon baru,” ucapnya.

Dedi juga menegaskan tidak ada pengambilan sumber daya alam di dalam kawasan konservasi. Seluruh Pokdarwis di bawah TNGC, sebanyak 58 kelompok, telah mengantongi izin resmi melalui sistem OSS.

Menutup keterangannya, Dedi berharap berbagai pihak dapat menyikapi isu lingkungan secara objektif dan berbasis data lapangan.

“Kami terbuka untuk dialog dan debat publik berbasis data agar pengelolaan TNGC tetap berjalan sesuai prinsip konservasi,” ujarnya.

Melalui kolaborasi antara BTNGC, masyarakat, dan pengelola wisata, Taman Nasional Gunung Ciremai diharapkan tetap terjaga sebagai kawasan konservasi sekaligus destinasi wisata alam yang berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....