Tradisi Unik Menyambut Hari Kemenangan di Pelosok Nusantara

  • 15 Mar 2026 23:36 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Menjelang datangnya Idul Fitri, masyarakat Jawa biasanya menggelar tradisi Nyadran dengan mengunjungi makam leluhur. Mereka membersihkan pusara keluarga dan berdoa bersama sebagai bentuk penghormatan serta pembersihan diri sebelum bulan suci berakhir.

Bergeser ke wilayah Sumatra, warga Riau memiliki tradisi Lampu Colok yang menerangi malam-malam terakhir Ramadan. Ribuan pelita minyak disusun membentuk miniatur masjid yang indah untuk menyemarakkan suasana kampung dan menyambut para perantau.

Masyarakat Aceh punya cara tersendiri dalam merayakan kebersamaan melalui tradisi memotong ternak yang dikenal sebagai Meugang. Daging hasil sembelihan tersebut dimasak dengan bumbu rempah khas untuk dinikmati bersama keluarga besar maupun dibagikan kepada fakir miskin.

Di Semarang, Jawa Tengah, suara tabuhan bedug dalam tradisi Dugderan menjadi penanda kegembiraan menyambut hari raya. Pawai budaya yang melibatkan maskot Warak Ngendog ini selalu berhasil menyedot perhatian ribuan warga untuk berkumpul di pusat kota.

Tradisi Meriam Karbit di sepanjang tepian Sungai Kapuas, Pontianak, memberikan sensasi perayaan yang sangat menggelegar dan meriah. Dentuman keras dari batang kayu besar ini dipercaya secara turun-temurun dapat mengusir roh jahat serta menambah semangat kemenangan.

Warga di Gorontalo menerangi pekarangan rumah mereka dengan festival Tumbilotohe yang menggunakan ribuan lampu botol tradisional. Cahaya yang temaram namun hangat ini diperuntukkan sebagai penerang bagi masyarakat yang hendak membayarkan zakat fitrah ke masjid.

Semua keragaman tradisi ini membuktikan betapa kayanya budaya Indonesia dalam memaknai datangnya hari yang fitri. Meskipun caranya berbeda-beda, esensi dari setiap ritual tetaplah tentang syukur, silaturahmi, dan mempererat tali persaudaraan antar sesama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....