Ngapem: Tradisi Cirebon Menolak Bala dengan Kue Apem

  • 12 Agt 2025 16:19 WIB
  •  Cirebon

KBRN, Cirebon: Bulan Safar dalam penanggalan Hijriah seringkali dianggap sebagai bulan yang penuh dengan kesialan atau musibah. Namun, di Kota Cirebon, Jawa Barat, mitos tersebut tidak hanya dilawan dengan doa, tetapi juga dengan sebuah tradisi yang manis dan penuh makna.

Lantas apa makna dan tujuan dari tradisi Ngapem tersebut? Dilansir dari repository.syekhnurjati.ac.id, ngapem adalah tradisi membuat dan membagikan kue apem , yang dipercaya sebagai cara untuk menolak bala atau kesialan yang konon banyak terjadi di bulan Safar. Tradisi ini berakar dari kepercayaan bahwa dengan berbagi makanan ke masyarakat sekitar, terutama kue apem yang teksturnya lembut dan manis, segala hal buruk dapat ditiadakan dan digantikan dengan kebaikan.

Kue apem, yang dibuat dari tepung beras dan tape singkong, memiliki filosofi tersendiri. Nama "apem" dipercaya berasal dari kata bahasa Arab, 'afwun atau 'afuwwun, yang berarti 'ampunan'. Oleh karena itu, membagikan kue apem juga dimaknai sebagai upaya untuk memohon ampunan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala dosa dan kesalahan.

Tradisi ini biasanya dilakukan pada hari Rabu terakhir di bulan Safar, yang dikenal sebagai Rebo Wekasan. Pada hari itu, masyarakat Cirebon beramai-ramai membuat kue apem di rumah masing-masing, kadang bersama anggota keluarga besar. Setelah matang, kue-kue apem tersebut kemudian dibagikan kepada tetangga, sanak saudara, dan bahkan orang-orang yang lewat di depan rumah.

Proses membagikan apem inilah yang menjadi inti dari tradisi Ngapem. Momen ini bukan sekadar kegiatan bagi-bagi makanan, melainkan juga wadah untuk mempererat tali silaturahmi. Dengan saling berkunjung dan bertukar apem, hubungan antarwarga semakin erat, rasa kebersamaan pun terpupuk dengan kuat. Mereka saling mendoakan agar dijauhkan dari segala musibah dan diberikan keselamatan.

Tradisi Ngapem adalah bukti nyata bahwa warisan budaya lokal dapat hidup berdampingan dengan nilai-nilai religius. Ngapem tidak hanya menjadi cara untuk menghadapi mitos dengan penuh kearifan, tetapi juga menjadi pengingat tentang pentingnya berbagi, memohon ampunan, dan menjaga keharmonisan sosial. Di balik kelembutan kue apem yang dibagikan, tersimpan harapan akan kebaikan, keselamatan, dan keberkahan bagi seluruh masyarakat.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....