Casu Marzu: Keju "Hidup" yang Menantang Adrenalin dari Sardinia

  • 08 Jul 2026 13:32 WIB
  •  Cirebon
Poin Utama
  • Casu Marzu: Keju "Hidup" yang Menantang Adrenalin dari Sardinia

RRI.CO.ID, Cirebon - Bagi sebagian besar orang, keju yang dihinggapi belatung adalah tanda bahwa makanan tersebut sudah busuk dan harus segera dibuang. Namun, di Pulau Sardinia, Italia, kondisi ini justru menjadi indikator dari sebuah hidangan mewah yang sangat dicari, yaitu Casu Marzu.

Dilansir dari Traveloka Explore, keju tradisional yang terbuat dari susu domba ini sengaja dibiarkan terbuka agar lalat keju (Piophila casei) dapat bertelur di dalamnya. Ketika telur-telur tersebut menetas, larva atau belatung yang dihasilkan akan memakan dan mencerna lemak dalam keju.

Proses fermentasi yang tidak biasa ini menghasilkan tekstur keju yang sangat lembut, berair, dan memiliki aroma serta rasa pedas yang sangat menyengat di lidah. Hal yang membuat kuliner ini semakin unik sekaligus ekstrem adalah cara menyantapnya.

Penduduk lokal Sardinia biasanya memakan keju ini bersama roti tipis lokal saat belatung-belatungnya masih hidup dan menggeliat aktif. Bahkan, belatung kecil ini memiliki kemampuan untuk melompat hingga ketinggian 15 sentimeter jika merasa terganggu.

Oleh karena itu, mereka yang memakannya sering kali harus melindungi mata mereka saat menyuap keju tersebut. Keberadaan larva hidup ini dipercaya sebagai bukti bahwa keju tersebut masih segar dan aman dikonsumsi menurut standar tradisi lokal.

Meskipun dianggap sebagai warisan budaya yang berharga, Casu Marzu memiliki status hukum yang kontroversial. Pemerintah Uni Eropa telah melarang perdagangan komersial keju ini karena alasan higienitas dan risiko kesehatan, seperti potensi infeksi parasit pada dinding pencernaan.

Namun, pelarangan tersebut tidak mematikan tradisi ini. Casu Marzu tetap diproduksi secara sembunyi-sembunyi oleh para peternak lokal dan dijual di pasar gelap dengan harga yang cukup tinggi bagi para pemburu kuliner ekstrem.

Bagi masyarakat Sardinia, keju ini bukan sekadar makanan aneh, melainkan simbol identitas budaya yang merefleksikan bagaimana manusia beradaptasi dengan keterbatasan lingkungan di masa lalu melalui metode pengawetan yang unik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....