Menghitung Kandungan Gizi Telur Asin dan Telur Rebus Biasa

  • 31 Agt 2026 20:04 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID,Cirebon - Telur merupakan salah satu sumber protein hewani yang mudah diperoleh dan kerap menjadi pilihan untuk sarapan maupun lauk sehari-hari. Namun, apakah kandungan gizi telur asin sama dengan telur rebus biasa? Perbedaan utama keduanya terletak pada proses pengolahan.

Telur rebus dimasak tanpa proses penggaraman, sedangkan telur asin diawetkan menggunakan garam sehingga cita rasa dan kandungan natriumnya dapat berbeda. Secara umum, satu butir telur ayam berukuran sekitar 50 gram menyediakan sekitar 60 kalori, 6 gram protein, 4 gram lemak dan sekitar 65 miligram natrium.

Telur juga mengandung sejumlah zat gizi penting seperti vitamin D, vitamin B12, riboflavin, selenium dan kolin. Data tersebut menunjukkan bahwa telur rebus dapat menjadi sumber protein yang cukup padat gizi dengan jumlah kalori yang relatif rendah.

Sementara itu, telur asin memiliki kandungan gizi yang dipengaruhi oleh proses penggaraman. Penambahan garam membuat telur asin umumnya memiliki kadar natrium lebih tinggi dibandingkan telur yang hanya direbus.

Karena itu, siapa yang perlu memperhatikan asupan garam—terutama orang dengan tekanan darah tinggi atau kondisi tertentu yang membutuhkan pembatasan natrium—perlu lebih cermat mengonsumsi telur asin. American Heart Association merekomendasikan asupan natrium tidak lebih dari 2.300 miligram per hari bagi kebanyakan orang dewasa, dengan target ideal 1.500 miligram untuk sebagian besar orang dewasa.

Apa yang membedakan keduanya? Telur rebus biasa lebih mudah dikontrol kandungan garam tambahannya karena tidak melalui proses pengasinan, sedangkan telur asin menawarkan rasa gurih yang lebih kuat tetapi membawa konsekuensi berupa tambahan natrium. Jadi, pilihan antara keduanya sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan gizi, pola makan dan kondisi kesehatan masing-masing.

Dari sisi protein, keduanya tetap dapat berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan protein harian. Selain protein dan lemak, telur juga mengandung kolesterol yang terutama terdapat pada bagian kuning telur.

American Heart Association menjelaskan bahwa satu telur utuh dapat mengandung sekitar 200 miligram kolesterol makanan, tetapi perkembangan penelitian menunjukkan bahwa kolesterol makanan tidak dapat dinilai secara terpisah dari keseluruhan pola makan, terutama konsumsi lemak jenuh. Dalam panduan terbaru 2026, AHA menekankan pola makan sehat secara keseluruhan, termasuk memilih sumber protein sehat dan mengurangi asupan natrium.

Informasi ini penting karena masyarakat sering menganggap telur asin dan telur rebus biasa memiliki kandungan yang sama hanya karena bahan dasarnya sama. Padahal, cara pengolahan dapat memengaruhi komposisi zat gizi tertentu, khususnya natrium.

Oleh sebab itu, bagi masyarakat yang ingin mendapatkan manfaat protein dari telur tanpa terlalu banyak tambahan garam, telur rebus biasa dapat menjadi pilihan praktis, sementara telur asin tetap dapat dikonsumsi secara bijak sebagai bagian dari pola makan beragam dan seimbang. Pada akhirnya, kapan dan berapa banyak telur yang dikonsumsi perlu disesuaikan dengan kebutuhan setiap orang. Telur bukan makanan yang harus dihindari hanya karena mengandung kolesterol, tetapi konsumsi tetap perlu memperhatikan keseluruhan pola makan.

Bagi seseorang yang memiliki kadar kolesterol LDL tinggi atau kondisi kesehatan tertentu, konsultasi dengan dokter atau ahli gizi dapat membantu menentukan porsi yang tepat. Dengan memahami perbedaan kandungan gizi dan proses pengolahannya, masyarakat dapat memilih antara telur asin dan telur rebus secara lebih cerdas sesuai kebutuhan tubuh.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....