Bioelektronik, Inovasi Mutakhir untuk Penyakit Kronis

  • 18 Agt 2026 08:37 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Jennie Moore, seorang pensiunan guru berusia 60 tahun asal Baldwin, New York, berhasil sembuh dari rasa sakit akibat arthritis reumatoid yang diidapnya selama puluhan tahun. Setelah gagal mendapatkan kesembuhan dari obat-obatan seperti Humira dan Orencia, ia kini mengandalkan perangkat implan stimulator saraf berukuran sebesar kapsul multivitamin.

Dilansir dari Nationalgeographic.com, Selasa 18 Agustus 2026, alat yang ditanamkan melalui operasi singkat tersebut berfungsi menstimulasi cabang saraf vagus sebelah kiri untuk mengaktifkan sirkuit saraf pengontrol peradangan saat ia tidur. Hasilnya sangat luar biasa karena Jennie Moore kini dapat berjalan normal tanpa perlu lagi menggunakan alat bantu jalan.

Presiden dan CEO Feinstein Institutes for Medical Research, Kevin J. Tracey, memelopori penemuan refleks inflamasi yang membuktikan bahwa sinyal saraf vagus mampu mengendalikan peradangan tubuh. Berdasarkan temuan ini, Tracey mendirikan SetPoint Medical pada tahun 2007 untuk menciptakan alat terapi listrik tanpa ketergantungan penuh pada obat-obatan medis.

Uji coba klinis yang melibatkan 242 penderita arthritis reumatoid tingkat menengah hingga berat membuktikan keunggulan alat ini secara signifikan dibanding metode pengobatan konvensional. Keberhasilan riset medis tersebut akhirnya resmi mendapatkan persetujuan dari badan pengawas obat dan makanan Amerika Serikat (FDA) pada tahun 2025.

Direktur Cold Spring Harbor Laboratory Cancer Center, David Tuveson, mengonfirmasi bahwa kesuksesan uji klinis fase tiga ini mendorong uji coba lanjutan untuk penyakit demielinisasi dan inflamasi usus. Selain itu, pengembangan alat stimulator auricular yang menargetkan saraf vagus melalui telinga juga tengah diuji untuk penanganan Long COVID hingga Parkinson.

Perusahaan medis FemPulse turut menguji alat stimulator panggul untuk mengatasi kantung kemih hiperaktif guna menggantikan penggunaan obat Detrol yang kerap memicu risiko demensia. Di tempat lain, Profesor Silvia V. Conde dari NOVA Medical School Portugal meneliti stimulasi organ carotid body di leher demi menyembuhkan penyakit kardiometabolik.

Meskipun biaya awal pemasangan alat masih relatif tinggi dan proses klaim asuransi kesehatan memakan waktu lama, efisiensi jangka panjangnya jauh lebih baik dibanding obat bernilai miliaran rupiah per tahun. Para peneliti kini terus menyempurnakan bahan perangkat implan agar lebih fleksibel serta mengembangkan algoritma sinyal listrik yang lebih presisi bagi pasien.

Kini Jennie Moore merasa sangat optimistis dapat ikut menuruni bebatuan licin dan menikmati keindahan air terjun di Taman Nasional Mongaup bersama keluarganya. Keberhasilan terapi implan bioelektronik ini serupa dengan efektivitas alat pacu jantung modern yang sukses mengembalikan kualitas hidup para penderita gangguan fungsi organ tubuh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....