Musik Sebagai Terapi Medis Kesehatan Otak
- 09 Agt 2026 06:46 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Kisah Henry, seorang lansia berusia 94 tahun dengan demensia dalam dokumenter Alive Inside, menjadi bukti nyata bagaimana musik mampu membangkitkan ingatan. Setelah mendengarkan lagu Cab Calloway tahun 1930-an lewat earphone, ia mendadak membuka mata, menganggukkan kepala, dan bernyanyi dengan penuh semangat.
Dilansir dari Nationalgeographic.com, Minggu 9 Agustus 2026, peneliti kini berupaya mengidentifikasi komponen spesifik musik seperti ritme, tempo, dan melodi yang dapat memberikan dampak biologis pada tubuh. Proses mendengar musik diawali dari getaran udara pada gendang telinga hingga sel rambut koklea mengubahnya menjadi sinyal saraf menuju otak.
Aktivitas mendengarkan musik tidak hanya melibatkan korteks pendengaran, melainkan mengaktifkan jaringan gerak, ingatan, emosi, dan sistem penghargaan. Neurosaintis Edward Large mengembangkan Neural Resonance Theory (NRT) yang menjelaskan kemampuan otak menyinkronkan denyut saraf internalnya dengan ketukan musik.
Uji coba dari tim Caroline Palmer di McGill University menunjukkan bahwa mendengarkan musik sesuai tempo alami tubuh mampu meredakan rasa sakit. Selain itu, peneliti Li-Huei Tsai dari Massachusetts Institute of Technology menemukan bahwa nada berdenyut 40 hertz dapat mengurangi beban amiloid pada otak penderita Alzheimer.
Edward Large kemudian mendirikan Oscillo Biosciences untuk mengembangkan sistem SynchronyGamma yang menggabungkan stimulasi musik dan visual secara presisi. Di sisi lain, neurolog Alexander Pantelyat dari Johns Hopkins memelopori konsep "resep akustik" berbasis data pribadi untuk rehabilitasi pasien.
Teknologi seperti InTandem dan Movive dari MedRhythms memanfaatkan sensor sepatu untuk menyesuaikan tempo musik secara otomatis saat pasien stroke atau Parkinson berjalan. Hasil uji klinis tahun 2025 membuktikan bahwa penderita Parkinson yang menggunakan sistem ini berhasil meningkatkan jumlah langkah harian dan stabilitas berjalan secara signifikan.
Neurosaintis, Kyurim Kang, menekankan pentingnya memetakan elemen musik seperti melodi dan emosi agar sesuai dengan gejala yang dialami setiap pasien. Terapi inovatif berbasis ritme audio ini memberikan harapan baru untuk menurunkan risiko jatuh serta memulihkan fungsi kognitif para penderita penyakit saraf.
Kemajuan teknologi pemanfaatan nada dan ritme musik untuk menyembuhkan gangguan saraf otak ini serupa dengan efektivitas metode terapi neurofeedback modern. Kedua pendekatan medis berbasis sinyal gelombang otak tersebut terbukti sangat membantu proses pemulihan motorik serta memori para pasien secara terukur.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....