Membedakan Vertigo dan Pusing Biasa

  • 17 Mei 2026 07:05 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon — Banyak masyarakat yang langsung menyimpulkan bahwa setiap sensasi sakit kepala atau limbung secara otomatis disebut sebagai vertigo. Anggapan ini sering kali keliru karena dalam dunia medis, gejala-gejala tersebut tidak selalu merujuk pada satu diagnosis yang sama.

Kesalahan dalam mengenali istilah ini dapat memicu salah penanganan serta kecemasan yang tidak perlu bagi pasien. Secara klinis, dokter membedakan dengan tegas antara vertigo dengan kondisi pusing biasa yang dalam istilah medis disebut sebagai dizziness.

Vertigo memiliki karakteristik yang sangat spesifik, yaitu adanya ilusi gerakan mekanis seperti berputar atau melayang, baik tubuh sendiri maupun lingkungan sekitar. Jika Anda hanya merasakan kepala terasa berat, cenat-cenut, atau seperti pingsan tanpa sensasi berputar, maka itu bukanlah vertigo.

BACA JUGA : Kenali Gejala Awal Vertigo

Ada berbagai kondisi medis lain yang memiliki kemiripan gejala kelumpuhan keseimbangan namun memiliki akar penyebab yang sepenuhnya berbeda. Salah satu contohnya adalah hipotensi ortostatik, yaitu penurunan tekanan darah secara mendadak saat seseorang berubah posisi dari duduk ke berdiri.

Kondisi ini sering kali memicu pandangan menjadi gelap sesaat dan rasa kliyengan, tetapi tidak melibatkan sensasi ruangan berputar. Kondisi lain yang kerap menyerupai vertigo adalah anemia atau kekurangan sel darah merah yang menyebabkan suplai oksigen ke otak berkurang.

Pasien anemia umumnya mengeluhkan rasa melayang, lemas, dan mata berkunang-kunang yang sering kali disalahartikan sebagai serangan vertigo perifer. Selain itu, gangguan kecemasan umum atau serangan panik juga dapat memicu sensasi pusing melayang yang murni disebabkan oleh faktor psikologis.

BACA JUGA : Waspadai Bahaya Serangan Vertigo

Dunia kedokteran internasional pun menegaskan pentingnya ketepatan klasifikasi ini agar tidak terjadi kesalahan dalam pemberian terapi obat-obatan. Terkait diferensiasi klinis ini, Dr. David E. Newman-Toker, seorang profesor neurologi dari Johns Hopkins University School of Medicine, menuliskan analisisnya dalam jurnal kesehatan dunia Neurologic Clinics.

"Ketidakakuratan pasien dalam mendeskripsikan sensasi pusing sering kali mengarah pada misdiagnosis; memisahkan antara vestibular sejati dan gangguan sistemik lain adalah langkah krusial," katanya.

Oleh karena itu, pemeriksaan medis yang komprehensif sangat diperlukan untuk merunut akar masalah dari gejala pusing yang dirasakan masyarakat. Dokter spesialis biasanya akan memeriksa sistem vestibular di telinga dalam, menguji refleks mata, hingga memeriksa tekanan darah secara berkala.

Langkah ini dilakukan guna memastikan apakah stimulus gangguan berasal dari saraf pusat, telinga dalam, atau justru faktor kardiovaskular.

BACA JUGA : Bupati Dian: Melayani dengan Keikhlasan

Masyarakat diharapkan mulai lebih jeli dalam mengamati karakteristik rasa pusing yang muncul sebelum menyampaikan keluhan kepada tenaga medis. Mencatat pemicu spesifik, seperti apakah pusing muncul setelah berdiri lama, saat terlambat makan, atau saat stres melanda, akan sangat membantu proses diagnosis.

Pemahaman yang tepat mengenai tubuh sendiri akan mempercepat pemulihan dan mencegah komplikasi yang lebih berat.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....