Tidur Delapan Jam Tak Efektif?, Ini Penjelasannya!

  • 08 Apr 2026 09:25 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Banyak orang kini mengalami fenomena unik di mana tubuh telah beristirahat selama delapan jam, namun bangun dengan rasa lelah yang sama. Para peneliti menemukan bahwa kualitas tidur gelombang lambat yang berfungsi untuk pemulihan sel justru mengalami penurunan drastis.

Dilansir dari Nationalgeographic.com, akademisi Orfeu Buxton dari Pennsylvania State University menjelaskan bahwa masalah ini bukan sekadar kegagalan pribadi dalam mengatur waktu layar ponsel. Otak manusia sering kali tidak menerima sinyal hormonal yang cukup kuat untuk merasa aman dan benar-benar melepaskan kewaspadaan di malam hari.

Psikiater Stanford, Anna Lembke, dalam bukunya ‘Dopamine Nation’ menyebutkan bahwa stimulasi digital yang konstan membuat sistem penghargaan otak terus merasa gelisah. Sebuah studi tahun 2025 bahkan mengonfirmasi bahwa ketergantungan pada ponsel pintar berkaitan erat dengan buruknya kualitas pemulihan psikologis seseorang.

Kondisi ini membuat sistem stres tetap aktif meskipun tubuh sudah tidak lagi bergerak atau bekerja secara fisik. Akibatnya, hormon kortisol menurun lebih lambat dan variabilitas detak jantung tetap tertekan, yang menandakan bahwa pemulihan fisiologis tidak berjalan sempurna.

Buxton menggambarkan tekanan ekonomi digital ini sebagai "fracking manusia" yang terus mengeksploitasi perhatian kita sebagai sumber daya utama. Cahaya buatan dari layar tidak hanya mengacaukan ritme sirkadian, tetapi juga mengaktifkan jalur peringatan di otak yang menunda rasa kantuk.

Peneliti Kristen Knutson dari Northwestern University menekankan bahwa waktu kapan kita tidur sama pentingnya dengan berapa lama durasi kita memejamkan mata. Tidur yang dilakukan pada waktu biologis yang salah sering kali menjadi lebih dangkal dan gagal memberikan kesegaran yang dibutuhkan tubuh.

Gangguan pada penurunan hormon kortisol di malam hari juga menghambat sistem glimfatik otak dalam membersihkan sisa-sisa limbah metabolik harian. Wendy Troxel dari RAND menambahkan bahwa hilangnya batasan psikologis yang jelas membuat pikiran banyak pasien tidak pernah benar-benar mati saat terlelap.

Para ahli menyarankan pembangunan "titik akhir" psikologis yang jelas seperti menutup laptop atau meredupkan lampu sebagai sinyal bahwa hari telah berakhir. Jika sinyal ini konsisten, kewaspadaan akan mereda dan sistem penghargaan otak akan kembali kalibrasi secara alami untuk pemulihan yang maksimal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....