Mengenal Hipersomnia: Mengapa Tubuh Terus Merasa Lelah?

  • 04 Feb 2026 10:58 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Banyak orang beranggapan bahwa tidur lama adalah cara terbaik untuk memulihkan energi. Namun, bagi sebagian orang, rasa kantuk yang ekstrem tetap muncul meski sudah tidur belasan jam.

Kondisi ini dikenal secara medis sebagai hipersomnia. Berbeda dengan rasa lelah biasa, hipersomnia sering kali menjadi "teman dekat" gangguan kesehatan mental seperti depresi, di mana tubuh menggunakan tidur sebagai mekanisme pertahanan terhadap beban emosional yang berat.

Hipersomnia primer maupun sekunder tidak sekadar tentang durasi tidur yang panjang, melainkan tentang kualitas istirahat yang semu. Penderita sering kali mengalami kesulitan untuk benar-benar terjaga di siang hari (excessive daytime sleepiness), yang pada akhirnya mengganggu produktivitas dan fungsi sosial.

Dalam konteks kesehatan mental, kondisi ini kerap disebut sebagai "pelarian biologis" dari rasa cemas dan hampa yang menyiksa saat seseorang dalam kondisi terjaga. Penting untuk memahami bahwa tidur berlebihan bukanlah bentuk kemalasan.

Menurut para ahli, ada perubahan kimiawi di otak yang mendasari fenomena ini. Gangguan pada pengatur jam biologis tubuh membuat penderita sulit membedakan antara kebutuhan istirahat fisik dan kelelahan mental, sehingga mereka terjebak dalam siklus tidur yang tidak pernah terasa cukup.

Terkait fenomena ini, pakar kesehatan tidur dunia sering menekankan bahwa hipersomnia adalah sinyal adanya gangguan yang lebih dalam. Dr. David Rapoport, seorang profesor kedokteran dari Icahn School of Medicine at Mount Sinai yang juga merupakan pakar tidur ternama, pernah menjelaskan dalam sebuah wawancara kesehatan global mengenai kompleksitas kondisi ini.

"Tidur terlalu banyak bisa menjadi gejala dari banyak hal yang berbeda, termasuk depresi klinis. Ini bukan hanya tentang rasa kantuk, tetapi tentang cara otak merespons beban stres. Seringkali, orang yang tidur berlebihan sebenarnya tidak mendapatkan kualitas tidur yang mereka butuhkan untuk merasa pulih sepenuhnya."

Sebagai langkah awal, para ahli menyarankan untuk mulai mencatat pola tidur dan segera berkonsultasi jika keinginan untuk tidur mulai mengganggu kehidupan normal. Penanganan hipersomnia yang berkaitan dengan depresi biasanya melibatkan kombinasi terapi perilaku kognitif (CBT) dan pengaturan gaya hidup guna mengembalikan ritme sirkadian tubuh ke jalur yang sehat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....