Ilmuwan Sulap Limbah Plastik Menjadi Bahan Kue
- 18 Sep 2026 23:01 WIB
- Cirebon
Poin Utama
- Para peneliti dari Southern Illinois University Carbondale mengembangkan produk eksperimental bernama µBites yang mengubah plastik PET bekas dan limbah pertanian menjadi bahan pangan.
- Ilmuwan merekayasa jenis-jenis ragi khusus agar mampu memproses senyawa dari plastik dan limbah pertanian menjadi berbagai jenis makanan yang aman dikonsumsi.
- Hasil rekayasa ragi kemudian digunakan untuk memproduksi kukis yang kaya protein melalui teknologi pencetakan 3D, membuka peluang baru dalam industri pangan berkelanjutan.
RRI.CO.ID, Cirebon - Bayangkan sebuah botol plastik bekas tidak berakhir di tempat sampah, tetapi justru menjadi bagian dari makanan. Gagasan yang terdengar seperti fiksi ilmiah itu sedang dikembangkan para peneliti Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat, melalui produk eksperimental bernama µBites.
Mengutip American Chemical Society pada Agustus 2026, para ilmuwan merekayasa sejumlah jenis ragi agar mampu mengubah senyawa yang berasal dari plastik PET dan limbah pertanian menjadi berbagai bahan pangan. Hasilnya kemudian digunakan untuk membuat kukis kaya protein yang dicetak menggunakan teknologi pencetakan 3D.
Plastik yang menjadi bahan awal penelitian ini terutama adalah polyethylene terephthalate atau PET, jenis plastik yang banyak digunakan untuk botol minuman. Namun, plastik tersebut tidak langsung diolah menjadi makanan.
Para peneliti terlebih dahulu menggunakan proses yang disebut oxidative hydrothermal dissolution, yakni memanfaatkan air dan oksigen pada suhu serta tekanan tinggi untuk memecah material menjadi molekul yang lebih mudah dimanfaatkan mikroorganisme. Setelah material dipecah, molekul tersebut diberikan kepada ragi yang telah direkayasa.
Mikroorganisme ini kemudian mengubahnya menjadi sejumlah komponen, termasuk protein, lemak, asam, vitamin dan senyawa pemberi rasa. Limbah tanaman seperti batang serta daun jagung juga dapat dimasukkan dalam proses tersebut sehingga bahan bakunya tidak hanya berasal dari plastik.
Produk akhirnya diberi nama µBites, dibaca microbites. Adonan yang dihasilkan dari bahan tersebut kemudian dicampur dengan serat, pati dan pemanis sebelum dicetak menjadi kukis menggunakan printer 3D. Para peneliti juga mengembangkan ragi yang dapat menghasilkan rasa vanila dari biomassa tanaman serta menghasilkan beta-karoten dari senyawa yang berasal dari PET, yang dapat diubah tubuh menjadi vitamin A.
Riset ini bukan sekadar eksperimen membuat makanan unik. Proyek tersebut berkaitan dengan NASA Deep Space Food Challenge, yang bertujuan mencari teknologi produksi makanan dengan sumber daya terbatas dan limbah seminimal mungkin untuk misi manusia dalam jangka panjang. NASA menyebut teknologi semacam ini juga berpotensi diterapkan di lingkungan ekstrem di Bumi, selain untuk eksplorasi luar angkasa.
Salah satu alasan teknologi ini menarik untuk misi luar angkasa adalah keterbatasan ruang dan pasokan. Dalam perjalanan panjang, seperti misi menuju Mars, membawa seluruh persediaan makanan dari Bumi akan menjadi tantangan besar.
Sistem yang mampu mengubah limbah menjadi bahan pangan berpotensi membantu kru memanfaatkan sumber daya yang sebelumnya dianggap tidak berguna. Meski terdengar menjanjikan, kukis µBites belum menjadi makanan yang bisa dibeli atau dikonsumsi masyarakat luas.
American Chemical Society melaporkan bahwa data yang tersedia menunjukkan produk tersebut aman untuk dimakan, tetapi tim peneliti masih menunggu persetujuan institusional untuk melakukan uji rasa secara formal. Sejauh ini, penilaian manusia terhadap produk tersebut masih terbatas pada aroma, bukan mencicipinya.
Para peneliti juga masih menghadapi tantangan untuk membuat proses tersebut lebih efisien dan ekonomis. Saat ini, tidak seluruh komponen kukis dihasilkan oleh mikroorganisme.
Serat, pati dan pemanis masih perlu ditambahkan dari sumber lain, sementara tim peneliti ingin suatu hari membuat lebih banyak bahan tersebut melalui sistem mikroba. Jika teknologi ini berhasil dikembangkan lebih jauh, manfaatnya tidak hanya berkaitan dengan perjalanan ke Bulan atau Mars.
Para ilmuwan membayangkan sistem serupa dapat digunakan di kapal selam, wilayah bencana, atau tempat terpencil yang sulit mendapatkan pasokan makanan secara rutin. Limbah yang biasanya harus dibuang dapat menjadi bahan baku untuk menghasilkan sumber pangan baru.
Penelitian tersebut menunjukkan bagaimana bioteknologi mencoba mempertemukan dua persoalan yang selama ini berbeda, yakni limbah plastik dan keterbatasan sumber pangan. Namun, masih diperlukan penelitian lanjutan untuk memastikan keamanan, penerimaan konsumen, efisiensi produksi dan kelayakan teknologi tersebut sebelum benar-benar digunakan secara luas.
Untuk saat ini, µBites masih berada di tahap penelitian, tetapi idenya sudah membuka pertanyaan menarik: mungkinkah sampah yang selama ini kita buang suatu hari menjadi bahan makanan untuk perjalanan manusia ke luar angkasa?
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....