Little Red Dots, Pengguncang Teori Alam Semesta

  • 03 Jul 2026 08:40 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Saat Teleskop Luar Angkasa James Webb diluncurkan pada Natal 2021, para astronom berharap dapat menemukan galaksi-galaksi paling awal di alam semesta. Namun, Ivo Labbé dari Swinburne University of Technology bersama rekannya justru menemukan 13 titik merah terang (little red dots) misterius yang berukuran sebesar Galaksi Bima Sakti.

Dilansir dari Nationalgeographic.com, Jumat 3 Juli 2026, astronom dari Princeton University, Bingjie Wang, menyatakan bahwa temuan objek kuno berjuluk "penghancur alam semesta" ini sangat membingungkan dan tidak masuk akal. Sementara itu, Dale Kocevski dari Colby College terus meneliti titik-titik merah tersebut sejak tahun 2022 demi mengungkap komposisi kimia penyusunnya.

Melalui teknik spektroskopi pencarian panjang gelombang, para ilmuwan menganalisis pergerakan gas hidrogen super cepat yang mengorbit objek masif tersebut. Hipotesis awal para peneliti kemudian bergeser dari galaksi raksasa menjadi lubang hitam supermasif yang sedang aktif menyedot materi di sekitarnya.

Jorryt Matthee dari Institute of Science and Technology Austria mengungkapkan bahwa objek ini sangat berbeda karena tidak berkedip layaknya lubang hitam normal. Keanehan lain juga terlihat dari absennya radiasi sinar-X berenergi tinggi yang seharusnya dipancarkan oleh piringan akresi lubang hitam biasa.

Astronom Anna de Graaff dari Max Planck Institute for Astronomy menemukan penurunan intensitas cahaya aneh pada spektrum objek tersebut. Berdasarkan bukti baru itu, tim peneliti berteori bahwa titik merah tersebut merupakan "bintang lubang hitam" yang terselimuti atmosfer gas sangat padat.

Kosmolog Xiaohui Fan dari University of Arizona menegaskan bahwa seribu titik merah yang telah ditemukan ini kemungkinan besar bukan merupakan satu kelas objek yang sama. Di sisi lain, Roberto Maiolino dari University of Cambridge menduga perbedaan karakteristik tersebut terjadi akibat sudut pandang pengamatan dari Bumi yang melewati gumpalan gas.

Menariknya, astronom legendaris Carl Sagan dalam bukunya, Pale Blue Dot, yang terbit tahun 1994 telah memprediksi keberadaan fenomena astrofisika yang belum diketahui ini. Sagan berspekulasi bahwa struktur kosmik misterius di masa lalu mungkin dipicu oleh interaksi awan gas atau bintang purba, bukan peradaban asing.

Kini, para astronom juga telah menemukan dua lusin objek serupa di alam semesta modern yang jaraknya lebih dekat untuk dipelajari secara mendalam. Meskipun solusinya masih sulit dipahami setelah ratusan makalah diterbitkan, penemuan titik merah misterius ini berhasil menyajikan kejutan kosmik baru yang belum pernah terlihat sebelumnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....