Kurangnya Pemahaman Pengguna Picu Tindakan Kejahatan Siber
- 03 Feb 2026 21:43 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon – Mayoritas kejahatan siber terjadi karena dipicu oleh kurangnya pemahaman pengguna. Hal ini menunjukkan pentingnya peningkatan kompetensi sumber daya manusia di bidang keamanan digital.
Ketua Relawan TIK Jawa Barat, Muhammad Arifin, mengatakan kesenjangan pemahaman keamanan siber menjadi persoalan. “Sekitar 80 persen kejahatan siber itu korbannya sebenarnya karena faktor manusianya, bukan karena kehebatan serangannya,” katanya pada Senin, 2 Februari 2026.
Ia menjelaskan, meskipun literasi digital dari sisi keterampilan teknis sudah cukup berkembang, aspek keamanan digital masih tertinggal. Digital safety menjadi bagian yang belum banyak dipahami secara mendalam.
| Baca juga: Tips Tepat Memilih PK AC |
“Digital skill sudah banyak, tetapi untuk digital safety ini yang masih kurang,” ujarnya.
Menurut Arifin, instansi dan lembaga perlu meningkatkan kapasitas pegawainya melalui pelatihan keamanan siber yang lebih spesifik. Pelatihan tersebut mencakup digital forensik dan teknologi keamanan siber tingkat lanjut.
Ia mengakui sejumlah instansi dan lembaga menggandeng konsultan pihak ketiga untuk pengamanan sistem. Namun, langkah tersebut dinilai belum cukup tanpa pemahaman menyeluruh dari pejabat teknis di internal instansi.
| Baca juga: Ini Kondisi Otak saat Sedang 'Fly' |
“Menggandeng konsultan itu belum cukup, pejabat teknisnya juga harus paham secara menyeluruh,” ucapnya.
Peningkatan kapasitas SDM dinilai menjadi kunci utama untuk memperkuat pertahanan siber. Tanpa pemahaman yang baik, sistem secanggih apa pun tetap memiliki celah.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dalam beraktivitas di ruang digital. Menurutnya, dunia digital harus diperlakukan layaknya dunia nyata yang memiliki batasan.
Ia menjelaskan, kemudahan berinteraksi di media sosial kerap membuat masyarakat lengah. Padahal, tidak semua pihak di dunia maya dapat dipercaya begitu saja.
Arifin menekankan bahwa kewaspadaan merupakan bagian dari empat pilar literasi digital. Kurangnya pemahaman keamanan digital menjadi salah satu faktor utama tingginya korban kejahatan siber.
“Ada beberapa standar keamanan yang harus kita pahami. Dalam skala personal itu minimal sekali kita hindari akses internet publik/Wi-Fi publik untuk melakukan komunikasi yang berat, seperti misalnya transaksi,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....