Isolasi Sosial Ancam Perkembangan ‘Otak Sosial’ pada Remaja
- 20 Des 2025 16:09 WIB
- Cirebon
KBRN, Cirebon: Selama beberapa generasi, masa remaja didefinisikan sebagai waktu untuk koneksi sosial. Namun, lanskap ini berubah drastis; data Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan interaksi tatap muka harian (langsung) di kalangan remaja menurun dari 53% pada tahun 2006 menjadi hanya 36% pada tahun 2022.
Para ahli memperingatkan bahwa kurangnya interaksi langsung ini dapat memengaruhi perkembangan "otak sosial" —jaringan kompleks yang mencakup medial prefrontal cortex, anterior cingulate cortex, dan amygdala. Masa remaja, yang kini dianggap berlangsung hingga awal usia 30-an, adalah periode kritis di mana otak melakukan pengaturan ulang (rewiring).
Adriana Galván, profesor psikologi di UCLA, mengibaratkan perkembangan otak sosial seperti mempelajari bahasa. Otak kita memang dirancang untuk bersosialisasi, namun kita baru menjadi "ahli" setelah menerima masukan (input) sosial di awal kehidupan.
| Baca juga: Benarkah Wanita Sulit Membaca Peta? |
Interaksi ini diperlukan untuk menyempurnakan sistem saraf yang mendukung pemahaman perilaku sosial. Melalui Adolescent Brain Cognitive Development (ABCD) Study, penelitian jangka panjang terbesar di AS, para ilmuwan mulai menemukan bukti fisik dari dampak isolasi:
1. Perubahan Struktur Otak: Remaja yang lebih suka menyendiri menunjukkan perbedaan organisasi pada superior temporal gyrus (area untuk memahami kondisi mental orang lain).
2. Sirkuit Emosi Lebih Lemah: Area anterior cingulate cortex yang mendukung pemrosesan emosi cenderung kurang berkembang.
| Baca juga: Kebiasaan Unik Orang Ber-IQ Tinggi |
3. Dampak di Luar Keterampilan Sosial: Secara mengejutkan, isolasi juga memengaruhi jaringan perhatian (attention) dan pengambilan keputusan.
Caterina Stamoulis dari Harvard Medical School menjelaskan bahwa karena masa remaja adalah periode neuroplastisitas yang tinggi (fleksibilitas otak), perubahan yang terjadi pada jendela waktu ini dapat memiliki efek langgeng. Jika tidak dikoreksi, hal ini dapat memicu masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi hingga dewasa.
Namun, plastisitas ini juga membawa kabar baik. Dampak negatif isolasi dapat dimitigasi dengan intervensi dini, seperti memberikan lebih banyak kesempatan bersosialisasi atau bantuan terapi. Para ahli menekankan pentingnya interaksi yang bermakna, bukan sekadar jumlah teman yang banyak.
Mengenai apakah interaksi virtual (media sosial) dapat menggantikan manfaat interaksi tatap muka, para ilmuwan masih terus melakukan penelitian. Fokusnya kini adalah memahami jenis interaksi virtual mana yang bermanfaat dan mana yang justru merugikan bagi perkembangan otak. (Sumber: Nationalgeographic.com)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....