Benarkah Wanita Sulit Membaca Peta?

  • 31 Mei 2026 12:24 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Ungkapan bahwa wanita lebih sulit membaca peta atau maps dibanding pria sudah lama beredar dan sering dijadikan bahan candaan. Namun, benarkah anggapan tersebut didukung oleh sains, atau hanya sekadar stereotip yang terus diwariskan dari generasi ke generasi?

Beberapa penelitian memang menemukan adanya perbedaan rata-rata dalam kemampuan navigasi spasial antara pria dan wanita. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Behavioral Neuroscience menemukan bahwa pria cenderung lebih sering menggunakan petunjuk arah berbasis jarak dan orientasi ruang, sementara wanita lebih sering mengandalkan penanda visual seperti bangunan, toko, atau objek tertentu di sepanjang perjalanan.

Namun, perbedaan ini tidak berarti wanita tidak mampu membaca peta, melainkan menunjukkan adanya kecenderungan strategi navigasi yang berbeda. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature pada tahun 2020 juga menunjukkan bahwa kemampuan navigasi dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk pengalaman, lingkungan tempat tinggal, pendidikan, dan kebiasaan bepergian.

Dengan kata lain, kemampuan seseorang membaca peta tidak hanya ditentukan oleh jenis kelamin. Seseorang yang sering melakukan perjalanan atau terbiasa menggunakan peta biasanya memiliki kemampuan navigasi yang lebih baik, terlepas dari apakah ia pria atau wanita.

Para peneliti juga menyoroti peran stereotip dalam membentuk kepercayaan diri. Ketika seseorang terus-menerus mendengar bahwa kelompoknya dianggap kurang baik dalam suatu kemampuan, mereka bisa menjadi lebih ragu terhadap dirinya sendiri. Fenomena ini dikenal sebagai stereotype threat. Akibatnya, sebagian wanita mungkin merasa kurang percaya diri saat membaca peta, bukan karena kemampuannya lebih rendah, tetapi karena terpengaruh oleh ekspektasi sosial yang sudah lama melekat.

Menariknya, perkembangan teknologi juga mengubah cara manusia bernavigasi. Kehadiran aplikasi seperti GPS dan peta digital membuat sebagian besar orang tidak lagi mengandalkan kemampuan membaca peta konvensional. Bahkan, penelitian dari para ilmuwan di University College London menunjukkan bahwa penggunaan GPS secara berlebihan dapat mengurangi aktivitas bagian otak yang berkaitan dengan navigasi, baik pada pria maupun wanita.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga dapat menemukan banyak contoh yang bertentangan dengan stereotip tersebut. Tidak sedikit wanita yang bekerja sebagai pilot, navigator kapal, pemandu wisata, pendaki gunung, hingga pengemudi profesional yang mengandalkan kemampuan orientasi ruang dengan sangat baik. Sebaliknya, banyak pria yang juga pernah tersesat meskipun merasa yakin mengetahui arah.

Jadi, anggapan bahwa wanita sulit membaca peta tidak sepenuhnya benar. Penelitian menunjukkan adanya perbedaan rata-rata dalam cara pria dan wanita bernavigasi, tetapi bukan berarti salah satu kelompok secara mutlak lebih unggul. Kemampuan membaca peta lebih banyak dipengaruhi oleh pengalaman, latihan, lingkungan, dan kepercayaan diri daripada jenis kelamin semata.

Jika seseorang kesulitan menemukan jalan, penyebabnya kemungkinan bukan karena ia wanita atau pria, melainkan karena belum cukup terbiasa menggunakan peta atau mengenali lingkungan sekitarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....