Lintasi Majalengka Selatan, Waspadai 25 Titik Longsor

  • 24 Mar 2026 20:13 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Majalengka - Di tengah euforia libur Lebaran 1447 Hijriah, ancaman bencana alam membayangi sejumlah wilayah di selatan Majalengka. Hujan deras yang mengguyur sejak Senin malam, 23 Maret 2026, memicu sedikitnya 25 titik longsor yang tersebar di 11 desa, dengan dampak terparah terjadi di Kecamatan Lemahsugih.

Situasi ini menjadi perhatian serius, mengingat wilayah tersebut merupakan jalur penghubung penting yang kerap dilalui masyarakat selama musim mudik dan libur Idulfitri. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Majalengka mencatat, selain longsor, bencana juga meliputi gerakan tanah, banjir bandang di Desa Margajaya, hingga insiden sambaran petir yang merusak rumah warga di Desa Sinargalih.

Di balik derasnya hujan yang mengguyur perbukitan, tim BPBD bergerak cepat. Kepala Pelaksana BPBD Majalengka, Agus Tamim, menyampaikan bahwa pihaknya langsung melakukan kaji cepat begitu laporan diterima dari pemerintah desa dan relawan.

"Tim kami segera turun ke lapangan untuk melakukan asesmen dan penanganan awal. Pendataan masih terus berjalan guna memastikan kebutuhan mendesak masyarakat terdampak," ujarnya, Selasa, 24 Maret 2026.

Kondisi ini semakin krusial karena wilayah selatan Majalengka dikenal memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap longsor, terutama saat intensitas hujan meningkat dalam durasi panjang. Sejumlah akses jalan desa dilaporkan tertutup material longsor, mengganggu mobilitas warga di tengah meningkatnya aktivitas libur Lebaran.

Meski demikian, hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa. Upaya penanganan darurat pun terus dikebut.

BPBD bersama dinas terkait, TNI-Polri, dan relawan melakukan pembersihan material longsor serta distribusi bantuan. Perbaikan akses jalan juga dilakukan menggunakan alat berat di beberapa titik strategis, termasuk jalur Ciranca dan Padarek-Kalapadua.

Pemerintah mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di lereng perbukitan dan bantaran sungai, untuk meningkatkan kewaspadaan. Tanda-tanda seperti retakan tanah atau suara gemuruh diminta tidak diabaikan, terutama di tengah cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi selama libur Lebaran.

Di balik hangatnya momen berkumpul bersama keluarga, alam mengingatkan bahwa kewaspadaan tetap menjadi kunci utama. Libur Lebaran bukan hanya tentang perjalanan pulang, tetapi juga tentang keselamatan hingga kembali.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....