Padepokan Budaya Kuningan Jadi Benteng Pelestarian Tradisi
- 14 Sep 2026 14:15 WIB
- Cirebon
Poin Utama
- Deni Darmadi, pegiat seni Padepokan Riung Gunung Kadugede di Kabupaten Kuningan, mengalami kesulitan mengakses anggota dewan meskipun memiliki nomor telepon mereka.
- Dari banyak nomor anggota dewan yang tersimpan, hanya satu yang benar-benar responsif terhadap persoalan yang disampaikan oleh komunitas seni padepokan.
- Keterbatasan akses ini mencerminkan gap komunikasi antara masyarakat seni lokal dan wakil rakyat dalam menyampaikan aspirasi dan kegelisahan.
RRI.CO.ID, Kuningan – Nomor telepon anggota dewan mungkin tersimpan di banyak ponsel. Namun, bagi pegiat seni di padepokan, memiliki nomor wakil rakyat belum tentu berarti memiliki akses untuk menyampaikan kegelisahan.
Deni Darmadi, pegiat Padepokan Riung Gunung Kadugede, Kabupaten Kuningan, merasakan sendiri perbedaannya. Dari sekian banyak nomor anggota dewan yang tersimpan di telepon genggamnya, hanya satu yang menurutnya benar-benar merespons ketika persoalan padepokan disampaikan.
Ia menyebutnya dengan panggilan akrab, “Bunda”. “Alhamdulillah, saya tidak muluk-muluk. Di HP saya banyak nomor anggota dewan, tapi ketika saya sampaikan keluhan, beliau (Bunda) yang langsung merespons dan menjawab,” ucap Deni yang akrab disapa Mang Dadawuk, dalam Sapa Budaya bersama warga di Kuningan, Minggu, 13 September 2026.
Bagi Dadawuk, respons itu bukan sekadar komunikasi antara budayawan dan politisi. Ada kebutuhan yang jauh lebih nyata: bagaimana padepokan tetap bisa menjadi ruang belajar bagi anak-anak muda.
Salah satunya ketika Padepokan Riung Gunung membutuhkan alat peraga untuk latihan. Peralatan tersebut menjadi bagian penting dalam kegiatan pembinaan yang selama ini mereka jalankan.
Di tempat seperti padepokan, latihan seni bukan semata perkara gerakan, pertunjukan, atau kemampuan memainkan sebuah tradisi. Ada proses panjang untuk mengenalkan kembali identitas lokal kepada generasi yang tumbuh di tengah arus modernisasi.
“Bunda mengerti dan mengangkat derajat kami. Kami berjuang bukan karena kami ahli, tapi kami berusaha mempertahankan budaya yang ada di Kabupaten Kuningan. Tujuan utamanya adalah membina mental anak-anak agar mereka tidak lupa dengan budaya kita sendiri,” kata Dadawuk.
Kegelisahan itu menjadi alasan mengapa keberadaan padepokan masih dianggap penting. Ketika budaya lokal semakin berhadapan dengan perubahan zaman, padepokan mencoba mengambil peran sebagai ruang untuk menjaga agar tradisi tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.
Di sinilah pertemuan antara pegiat budaya dan pemangku kebijakan menemukan maknanya. Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Hj Tina Wiryawati SH MM, hadir dalam Sapa Budaya bersama warga yang mempertemukan para pegiat budaya dari Padepokan Cimande Kabupaten Kuningan (PPCA) Awirarangan dan Padepokan Riung Gunung Kadugede, Minggu, 13 September 2026.
Hubungan itu bahkan tidak berhenti pada dukungan terhadap kegiatan padepokan. Tina secara resmi didapuk sebagai Ibu Angkat Padepokan Cimande (PPCA) Kabupaten Kuningan dan Padepokan Riung Gunung.
Bagi para pegiat budaya, posisi tersebut menjadi bentuk dukungan yang diharapkan bisa menjaga keberlangsungan pembinaan seni sekaligus regenerasi. Tina melihat persoalan budaya bukan sekadar urusan mempertahankan kesenian tradisional.
Di dalamnya terdapat persoalan identitas dan karakter generasi muda. “Jangan sampai kearifan lokal dan tradisi budaya kita lenyap malah lebih dilestarikan oleh orang asing. Pengenalan tradisi budaya kepada generasi muda ini sangat penting,” ujar Tina.
Pernyataan itu menunjukkan satu kegelisahan yang sama: budaya lokal bisa saja tetap hidup secara fisik, tetapi perlahan kehilangan generasi yang mengenal, memahami, dan mau meneruskannya. Padepokan kemudian menjadi salah satu ruang untuk memutus kemungkinan itu.
Di sana, anak-anak muda tidak hanya diperkenalkan pada bentuk kesenian, tetapi juga ditempatkan sebagai bagian dari proses menjaga warisan budaya. Karena itu, dukungan terhadap padepokan tidak berhenti pada bantuan peralatan, melainkan menyentuh persoalan yang lebih panjang: bagaimana tradisi tetap memiliki penerus.
Kolaborasi antara politisi dan budayawan di Kuningan pun menemukan titik temu pada persoalan tersebut. Politisi memiliki akses kebijakan dan dukungan, sementara para pegiat budaya berhadapan langsung dengan proses regenerasi di lapangan.
Jika keduanya berjalan beriringan, padepokan tidak sekadar menjadi tempat berlatih seni. Ia bisa menjadi ruang tempat generasi muda mengenal kembali dari mana mereka berasal sebelum arus perubahan zaman membuat akar itu semakin sulit ditemukan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....