Perjalanan Hari Kentang dari Pertanian hingga Festival
- 31 Mar 2026 04:37 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Kuningan - Setiap 31 Maret, ada satu perayaan unik yang mungkin terdengar sederhana, tetapi menyimpan cerita panjang tentang kebersamaan dan tradisi: Tater Day atau Hari Kentang.
Kisahnya bermula jauh di tahun 1843, di sebuah kota kecil bernama Benton, di negara bagian Kentucky. Saat itu, musim dingin baru saja berlalu. Udara mulai menghangat, dan para petani bersiap menyambut musim tanam.
Namun, sebelum kembali ke ladang, mereka punya satu tradisi penting.
Di balai kota, pada hari Senin pertama bulan April yang kini bergeser ke akhir Maret para petani berkumpul. Mereka datang bukan sekadar untuk bertemu, tetapi untuk bertukar ubi jalar, atau yang mereka sebut “taters”. Dari situlah nama Tater Day lahir.
Pertukaran ini bukan sekadar transaksi. Ia adalah simbol harapan. Harapan akan panen yang baik, musim yang bersahabat, dan kehidupan yang terus berjalan setelah dinginnya musim sebelumnya. Di tengah keterbatasan zaman itu, momen ini menjadi ajang silaturahmi yang hangat dan penuh makna.
Hari Kentang yang dulu sederhana kini menjelma menjadi festival meriah. Jalanan di Benton dipenuhi parade, aroma makanan menggoda dari kontes memasak, hingga hiruk-pikuk pasar malam. Keluarga datang bersama anak-anak, tawa bersahutan, dan kentang dalam berbagai bentuk menjadi bintang utamanya.
Dari kentang goreng renyah, hash browns yang gurih, hingga kentang panggang yang sederhana, semuanya dirayakan. Meski awalnya berfokus pada ubi jalar, kini semua jenis olahan kentang mendapat tempat dalam perayaan ini.
Di balik kemeriahannya, Tater Day tetap menyimpan ruh lamanya: tentang kebersamaan, tentang tradisi, dan tentang bagaimana hal kecil seperti kentang bisa menyatukan banyak orang.
Hari Kentang menjadi pengingat, bahwa di balik setiap perayaan sekecil apa pun itu selalu ada cerita panjang yang layak dikenang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....