BI Cirebon: Transaksi QRIS Meningkat, Literasi Digital Perlu Terus Diperkuat

  • 27 Agt 2026 15:17 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Transaksi digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di wilayah Ciayumajakuning terus menunjukkan perkembangan. Hingga Juli 2026, nilai transaksi QRIS tercatat mencapai Rp15,06 triliun.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cirebon, Wihujeng Ayu Rengganis, mengatakan tingginya transaksi tersebut menunjukkan masyarakat semakin terbiasa menggunakan sistem pembayaran digital.

“Di Ciayumajakuning telah menjadi transaksi sampai dengan Juli 2026 ini sebesar Rp15,06 triliun. Hal ini menandakan pemahaman terhadap digitalisasi sistem pembayaran sudah sangat berkembang di Ciayumajakuning,” ujanya dalam peringatan Hari Indonesia Menabung 2026 di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Cirebon, Rabu 26 Agustus 2026.

Menurutnya, perkembangan digitalisasi pembayaran memberikan kemudahan bagi masyarakat karena transaksi dapat dilakukan secara cepat dan praktis. Namun, kemudahan tersebut harus diiringi dengan pemahaman mengenai keamanan transaksi digital.

Terlebih, penggunaan transaksi digital kini semakin dekat dengan kehidupan generasi muda, termasuk pelajar tingkat SMP dan SMA. Karena itu, edukasi mengenai keamanan digital dinilai penting agar kemudahan teknologi tidak justru menimbulkan risiko bagi penggunanya.

“Namun, kemudahan transaksi pembayaran dan digitalisasi ini juga harus dibarengi dengan pemahaman yang kuat untuk bisa bertransaksi secara aman, termasuk memahami hak dan kewajiban konsumen terkait dengan kerahasiaan data pribadi,” katanya.

Ia mengingatkan para siswa agar tidak sembarangan membagikan informasi pribadi ketika melakukan aktivitas di ruang digital. “Adek-adek sekalian, jangan sembarangan menyebarkan data pribadinya,” katanya.

Ia menilai, peningkatan literasi digital di kalangan pelajar menjadi bagian penting dalam memperluas manfaat digitalisasi sistem pembayaran. Masyarakat tidak cukup hanya mampu menggunakan layanan digital, tetapi juga harus memahami risiko dan cara melindungi diri saat bertransaksi.

Bank Indonesia bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pemerintah daerah, dunia pendidikan, perbankan, serta pemangku kepentingan lainnya terus memperkuat sinergi dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan. Ia mengatakan masyarakat perlu dibekali pemahaman mengenai manfaat, risiko, serta penggunaan produk dan layanan keuangan secara bijak dan aman.

“Kami percaya dengan sinergi dan kolaborasi yang kuat, masyarakat tidak hanya akan memiliki akses untuk produk dan layanan keuangan, namun juga bisa memahami manfaat, risiko, serta cara penggunaannya secara bijak dan aman,” ujarnya.

Ia berharap edukasi yang diberikan dalam peringatan Hari Indonesia Menabung tidak hanya mendorong pelajar untuk mulai menabung, tetapi juga membentuk generasi yang mampu menggunakan layanan keuangan digital secara cerdas, aman, dan bertanggung jawab.

Dengan semakin luasnya penggunaan transaksi digital, ia menekankan pentingnya membangun kesadaran sejak dini agar generasi muda dapat memanfaatkan perkembangan teknologi keuangan tanpa mengabaikan keamanan dan perlindungan data pribadi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....