OJK Cirebon: Perbankan Harus Adaptif Hadapi Ekonomi Digital

  • 22 Agt 2026 15:40 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Perkembangan ekonomi digital tidak membuat perbankan kehilangan peran di tengah masyarakat, tetapi mendorong perubahan pola layanan dan transaksi. Aktivitas masyarakat di kantor cabang kini cenderung berkurang karena berbagai transaksi perbankan dapat dilakukan melalui layanan digital.

Kepala Kantor OJK Cirebon, H. Agus Muntholib, SH., MH., mengatakan transaksi perbankan justru terus meningkat meski masyarakat semakin jarang datang langsung ke kantor cabang. Menurutnya, kunjungan ke kantor bank saat ini lebih banyak berkaitan dengan kebutuhan layanan nasabah atau customer service.

“Kalau dari sisi pelaku industri jasa keuangan, bukan kemudian orang datang ke bank itu bertransaksi hilang, justru meningkat, cuma kalau orang datang ke bank betul-betul ke kantor cabang untuk melakukan transaksi, itu kita bisa menghitung jari sekarang,” ujar Agus kepada RRI Jumat, 21 Agustus 2026.

Agus menjelaskan, transaksi seperti setor dan tarik tunai, transfer, hingga pembayaran berbagai layanan kini semakin jarang dilakukan secara langsung di kantor cabang. Masyarakat lebih banyak memanfaatkan layanan digital karena dinilai lebih praktis dan dapat dilakukan tanpa harus datang ke bank.

Untuk menghadapi perubahan perilaku masyarakat tersebut, sejumlah bank mulai melakukan evaluasi dan mengembangkan layanan berbasis teknologi. Salah satunya melalui aplikasi super apps yang tidak hanya menyediakan layanan mobile banking, tetapi juga berbagai kebutuhan transaksi masyarakat.

Melalui super apps, masyarakat dapat melakukan pembayaran, membeli tiket, menonton film, membayar tagihan, hingga menyalurkan donasi dan zakat. Menurut Agus, pengembangan layanan tersebut menunjukkan upaya industri perbankan menangkap peluang dari perubahan perilaku masyarakat di era digital.

“Banyak sekali bank-bank sekarang itu membuat sebuah aplikasi super apps, jadi tidak hanya sebagai platform mobile banking, tapi di situ dia bisa melakukan transaksi pembayaran, nonton film, beli tiket, membayar tagihan, apapun bisa dilakukan,” ucapnya.

Di tengah pengembangan layanan digital, OJK juga mendorong perbankan dan sektor jasa keuangan untuk memperkuat tata kelola serta manajemen risiko, terutama dalam bidang teknologi informasi. Penguatan tersebut diperlukan untuk mengantisipasi berbagai ancaman kejahatan siber yang dapat mengganggu keamanan transaksi dan aset masyarakat.

Agus menilai keamanan menjadi aspek penting karena transaksi perbankan dapat dilakukan secara real-time melalui ekosistem digital. Jika risiko kejahatan siber tidak diantisipasi dengan baik, kepercayaan masyarakat terhadap layanan keuangan digital dapat menurun.

Karena itu, masa depan perbankan di tengah ekonomi digital tidak hanya bergantung pada kemampuan menghadirkan layanan yang praktis dan inovatif. Perbankan juga perlu memastikan keamanan, tata kelola, dan manajemen risiko berjalan kuat agar transformasi digital tetap memberikan rasa aman bagi masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....