Budayawan Soroti Pergeseran Pemaknaan Tradisi Muludan di Cirebon
- 26 Agt 2026 14:40 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon – Tradisi Maulid Nabi dan Panjang Jimat di Cirebon tetap dilaksanakan setiap tahun, tetapi perkembangan zaman membuat cara masyarakat memandang dan memahami tradisi tersebut mengalami perubahan dibandingkan masa lalu. Pemerhati Sejarah dan Budaya Cirebon, Jajat Sudrajat, mengatakan bentuk tradisi adat masih dipertahankan, sementara tantangan saat ini adalah memastikan generasi muda memahami filosofi dan makna di balik setiap prosesi.
Jajat mengatakan, masyarakat yang mengikuti prosesi Panjang Jimat sejak dahulu harus mempelajari tata cara dan makna kegiatan tersebut sebelum terlibat langsung dalam arak-arakan. Dalam pelaksanaannya, peserta juga membawa nilai spiritual dengan berselawat dan berzikir dalam batin sebagai bagian dari penghormatan terhadap kelahiran Nabi Muhammad SAW.
"Kalau tradisi budayanya tidak berubah, dari dulu begitu. Yang berubah itu kitanya, manusianya, dalam menyikapi, dalam memandang, dalam melihat dan mengartikan serta mengejawantahkan daripada arti itu sendiri," ujar Jajat.
Menurutnya, perubahan pemaknaan juga terlihat dari cara masyarakat mengenali bulan Mulud yang kini lebih sering dikaitkan dengan kegiatan pasar malam di sekitar keraton. Padahal, pada dekade 1970-an, kawasan Alun-Alun Kasepuhan dan Alun-Alun Kanoman juga menjadi tempat masyarakat menemukan berbagai makanan tradisional yang tidak selalu tersedia dalam kehidupan sehari-hari.
Jajat menyebut sejumlah makanan tradisional yang dahulu banyak dijumpai saat bulan Mulud, antara lain ketan panggang, tapel, gendang gompel, docang, dan kaladama yang memiliki ciri khas masing-masing. Tradisi tersebut menurutnya tidak hanya menghadirkan makanan, tetapi juga memperkenalkan kekayaan kuliner lokal yang sarat dengan nilai budaya kepada masyarakat.
"Zaman dulu ketika saya SMP tahun 77, 78, ketika di bulan Mulud, di Alun-Alun Kasepuhan, Alun-Alun Kanoman, itu banyak makanan-makanan tradisional yang setiap hari tidak kita temui," kata Jajat.
Selain Panjang Jimat, Jajat juga menyoroti tradisi Tir Nsiram atau kegiatan bersih-bersih diri yang dahulu dilakukan menjelang memasuki bulan Mulud, tetapi kini sudah tidak lagi ditemukan seperti sebelumnya. Tradisi tersebut memiliki filosofi bahwa masyarakat perlu mempersiapkan diri secara lahir dan batin sebelum menyambut bulan yang dianggap sakral karena berkaitan dengan kelahiran Rasulullah SAW.
"Filosofinya, sebelum masuk bulan Mulud, bulan yang sangat disakralkan, kita harus sudah bersih, bersih hati, bersih pikiran, bersih secara fisik dan rohani dalam rangka menyambut kelahiran Rasulullah," ucap Jajat.
Jajat menilai, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya proses pewarisan pengetahuan budaya kepada generasi muda agar tradisi tidak hanya bertahan dalam bentuk prosesi, tetapi juga tetap dipahami makna dan nilai filosofisnya. Menurutnya, masyarakat perlu melakukan getok tular atau menyampaikan pengetahuan budaya secara terus-menerus agar perubahan zaman tidak membuat generasi berikutnya salah memahami tradisi Maulid Nabi dan Panjang Jimat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....