Filosofi Apem, Beras, dan Kinca dalam Tradisi Safaran

  • 14 Agt 2026 12:12 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Kue apem dalam Tradisi Safaran tidak hanya menjadi makanan yang dibagikan kepada masyarakat, tetapi memiliki filosofi mendalam. Setiap bahan dan proses pembuatannya dimaknai sebagai simbol keberkahan, kesehatan, permohonan ampun, serta harapan keselamatan.

Sejarawan Cirebon, Mustaqim Asteja, menjelaskan apem memiliki sejarah penyebutan yang berkaitan dengan perkembangan dakwah Islam di Cirebon. “Itu dari bahasa affun artinya ampunan, permintaan maaf,” katanya kepada RRI, Rabu, 12 Agustus 2026.

Menurutnya, masyarakat Cirebon sebelumnya mengenal makanan tersebut dengan sebutan cimplo sebelum kemudian dikenal sebagai apem. Penyebutan apem dikaitkan dengan nilai dakwah yang mengajarkan pentingnya saling memaafkan dalam kehidupan masyarakat.

Mustaqim mengatakan bahan utama apem berupa beras juga memiliki pemaknaan tersendiri dalam tradisi masyarakat Cirebon. Beras dimaknai sebagai berkah dan waras yang menggambarkan harapan masyarakat memperoleh keberkahan serta kesehatan.

Beras tersebut kemudian digiling hingga menjadi tepung sebelum diolah menjadi apem yang siap dibagikan kepada masyarakat. Proses perubahan beras menjadi tepung juga dimaknai sebagai harapan agar doa dan ikhtiar masyarakat dapat sampai kepada tujuan.

Selain apem, masyarakat juga menyajikan kinca sebagai pelengkap yang memberikan rasa manis pada makanan tersebut. Kinca dibuat dari gula merah yang dicairkan dan dicampur dengan parutan kelapa sebagai bagian dari sajian tradisional.

Ia menjelaskan rasa manis kinca turut dimaknai sebagai harapan memperoleh kenikmatan dalam menjalankan kehidupan. “Kita mendapatkan manisnya nikmat Islam, manisnya nikmat iman, dan manisnya nikmat ihsan,” ujarnya.

Baca juga: Tradisi Rebo Wekasan Perkuat Nilai Keagamaan dan Budaya Masyarakat Cirebon

Filosofi tersebut membuat sedekah apem tidak hanya berkaitan dengan makanan tradisional, tetapi juga mengandung nilai keagamaan dan sosial. Pelestarian makna tersebut diharapkan membuat generasi muda memahami warisan kuliner juga dapat menjadi media pendidikan budaya dan spiritual.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....