Di Jepang, Malas dianggap Sebagai Penyakit
- 16 Sep 2026 09:40 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon – Di Jepang, ada istilah karoshi: mati karena terlalu banyak bekerja. Ironisnya, malas justru sering dipandang sebagai “penyakit mental”. Bukan karena mereka kejam, tapi karena hidup tanpa arah dianggap berbahaya. Dan tanpa sadar, kita juga mulai terjebak di situ, seperti dilansir dari habittohabit.
Malas bukan soal capek. Malas bukan selalu karena kurang tenaga. Sering kali, kita malas karena terlalu banyak berpikir. Pikiran penuh kekhawatiran bikin tubuh memilih diam. Ini bukan istirahat, ini freeze.
| Baca juga: Bahaya Tersembunyi di Balik Dengkuran |
Terjebak Anxiety Trap. Kita ingin bergerak, tapi takut salah. Ingin mulai, tapi kepikiran hasil. Akhirnya menunda, lalu menyalahkan diri sendiri. Siklus ini yang pelan-pelan bikin mental lelah.
Dianggap sepele, padahal bahaya. Menunda sedikit terasa aman. Menunda terus bikin hidup berhenti bergerak. Bukan karena kita bodoh, tapi karena anxiety mengunci langkah kita.
Bergerak kecil lebih sehat. Di Jepang, konsistensi kecil lebih dihargai daripada niat besar. Bukan sempurna, tapi rutin. Satu langkah kecil hari ini lebih menyelamatkan daripada rencana besar yang tidak pernah jalan.
Malas itu sinyal. Malas adalah alarm, bukan dosa. Alarm bahwa hidup kita butuh arah yang lebih jelas. Bukan motivasi berlebihan, tapi sistem yang bikin kita bergerak pelan tapi pasti.
Kalau kita merasa “malas” padahal capek mental, mungkin kita bukan lemah kita terjebak. Keluar dari anxiety trap bukan dengan paksaan, tapi dengan kebiasaan kecil yang konsisten. Mulai dari situ.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....