Bahaya Tersembunyi di Balik Dengkuran

  • 15 Jun 2026 15:42 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Banyak orang menganggap dengkuran sebagai hal biasa saat tidur. Suara yang muncul akibat aliran udara yang terhambat di saluran pernapasan ini sering kali dianggap sekadar gangguan bagi pasangan atau anggota keluarga yang tidur di dekatnya.

Namun, para ahli kesehatan mengingatkan bahwa dengkuran yang terjadi secara rutin dan disertai gejala tertentu dapat menjadi tanda adanya masalah kesehatan yang lebih serius. Menurut National Sleep Foundation, dengkuran terjadi ketika jaringan lunak di tenggorokan bergetar akibat penyempitan saluran napas saat tidur.

Kondisi ini bisa dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari kelelahan, kelebihan berat badan, posisi tidur telentang, konsumsi alkohol, hingga struktur anatomi saluran pernapasan yang sempit. Meski umum terjadi, dengkuran yang berlangsung terus-menerus tidak boleh diabaikan.

Salah satu alasan utama dengkuran perlu diwaspadai adalah kaitannya dengan gangguan tidur yang dikenal sebagai Obstructive Sleep Apnea atau OSA. Kondisi ini menyebabkan pernapasan berhenti sementara selama beberapa detik hingga menit saat tidur.

Penelitian dari National Institutes of Health menunjukkan bahwa penderita sleep apnea sering mengalami penurunan kadar oksigen dalam darah yang dapat mengganggu kualitas tidur dan kesehatan secara keseluruhan. Orang yang mengalami sleep apnea umumnya tidak menyadari gangguan tersebut.

Namun, beberapa gejala yang sering muncul antara lain mengantuk berlebihan pada siang hari, sakit kepala saat bangun tidur, sulit berkonsentrasi, mudah lelah, dan sering terbangun di malam hari. Jika gejala-gejala ini disertai dengkuran keras yang terjadi hampir setiap malam, pemeriksaan medis sangat disarankan.

Penelitian yang dipublikasikan oleh American Heart Association menemukan bahwa sleep apnea memiliki hubungan dengan peningkatan risiko tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stroke, hingga gangguan irama jantung. Hal ini terjadi karena tubuh berulang kali mengalami kekurangan oksigen saat tidur, sehingga sistem kardiovaskular bekerja lebih keras.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis. Selain berdampak pada kesehatan fisik, dengkuran kronis juga dapat memengaruhi kesehatan mental dan kualitas hidup.

Studi dari Harvard Medical School menunjukkan bahwa kualitas tidur yang buruk berkaitan dengan penurunan konsentrasi, gangguan suasana hati, serta meningkatnya risiko stres dan depresi. Tidak sedikit penderita yang merasa produktivitasnya menurun akibat kurang tidur yang berkualitas.

Kabar baiknya, banyak kasus dengkuran dapat dikurangi melalui perubahan gaya hidup sederhana. Menurunkan berat badan, menghindari alkohol sebelum tidur, menjaga jadwal tidur yang teratur, serta mengubah posisi tidur menjadi miring sering kali membantu mengurangi dengkuran.

Pada kasus yang lebih serius, dokter dapat merekomendasikan terapi khusus atau penggunaan alat bantu pernapasan saat tidur. Dengkuran memang terdengar sepele, tetapi kebiasaan ini bisa menjadi sinyal adanya gangguan kesehatan yang tidak boleh diabaikan.

Jika dengkuran terjadi secara rutin dan disertai rasa lelah berlebihan atau gangguan tidur lainnya, segera konsultasikan dengan tenaga medis. Mengenali penyebabnya sejak dini dapat membantu mencegah berbagai komplikasi kesehatan di masa mendatang dan meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....