Mengapa Orang Asing,Terkadang Justru Lebih Mendukung?

  • 07 Agt 2026 13:34 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID__Pernahkah merasa lebih dihargai oleh orang asing yang baru dikenal ketimbang oleh teman atau keluarga sendiri? Fenomena ini terasa aneh, tapi ternyata cukup umum terjadi dan punya penjelasan psikologis yang masuk akal. Alih-alih sekadar kebetulan, ada beberapa mekanisme sosial dan emosional yang membuat dukungan dari orang tak dikenal terasa lebih tulus dan bebas beban dibanding dukungan dari orang-orang dekat.

Salah satu penjelasan datang dari konsep yang dikenal dalam psikologi sosial sebagai fenomena keterbukaan diri kepada orang asing. Dilansir dari kajian di arXiv yang membahas perilaku manusia di ranah sosial, keterbukaan diri secara spontan kepada orang yang benar-benar tidak dikenal dikenal secara akademis sebagai stranger on the train phenomena, sebuah istilah yang pertama kali dikemukakan oleh Rubin pada 1975.

Konsep ini menjelaskan mengapa seseorang cenderung lebih leluasa membagikan pikiran, cerita, bahkan meminta pendapat kepada orang yang tidak memiliki riwayat panjang dengannya, karena minimnya risiko sosial jangka panjang dari interaksi tersebut. Orang-orang dekat, di sisi lain, sudah memiliki "arsip" panjang tentang diri kita termasuk kegagalan masa lalu atau kebiasaan lama yang tanpa disadari bisa memengaruhi cara mereka menilai langkah baru yang kita ambil. Orang asing tidak terbebani arsip semacam itu, sehingga tanggapan atau dukungan yang mereka berikan terasa lebih segar dan tidak terikat penilaian lama.

Penjelasan lain datang dari teori perbandingan sosial (social comparison theory) yang pertama kali dirumuskan oleh Leon Festinger. Dilansir dari kajian akademik "Konsep Dasar dan Implikasi Teori Perbandingan Sosial" yang dipublikasikan di ResearchGate, arah perbandingan sosial baik ke atas maupun ke bawah memberi pengaruh signifikan terhadap evaluasi diri dan reaksi emosional seseorang, dan efek ini justru lebih kuat ketika pembandingnya adalah orang-orang yang relatif dekat, bukan orang yang jauh secara sosial.

Artinya, semakin dekat jarak sosial seseorang dengan kita, semakin besar pula kemungkinan pencapaian kita dijadikan bahan pembanding bagi diri mereka sendiri, baik disadari maupun tidak. Hal ini diperkuat oleh jurnal "Iri dalam Relasi Sosial" yang dimuat di Neliti.

Dilansir dari jurnal tersebut, dalam proses perbandingan sosial, pihak yang paling sering menjadi objek maupun sumber rasa iri justru adalah orang-orang dekat seperti teman kuliah, rekan kerja, atau saudara, karena merekalah rujukan pembanding yang paling relevan secara relasional dan fisik.

Karena tidak berada dalam ruang persaingan atau lingkaran sosial yang sama, orang asing pada umumnya bisa memberi apresiasi tanpa terbebani rasa iri semacam ini. Ada pula sisi lain yang tak kalah penting, yaitu soal kejujuran tanpa beban relasi. Orang-orang terdekat sering menahan diri saat memberi pendapat karena khawatir menyakiti perasaan atau merusak hubungan jangka panjang, sehingga dukungan atau kritik yang mereka sampaikan terkadang menjadi kurang lugas.

Sementara itu dilansir dari laman psychology.uii.ac.id, dalam artikel Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia mengenai peran rasa syukur dalam perbandingan sosial di era digital, individu yang mampu menafsirkan pengalaman sosial secara konstruktif cenderung mengubah potensi rasa iri menjadi inspirasi dan apresiasi terhadap keberhasilan orang lain merupakan sebuah proses yang menurut kajian tersebut lebih mudah terjadi ketika perbandingan tidak dibayangi kedekatan emosional yang kompleks.

Karena orang asing tidak memiliki keterikatan emosional yang perlu dijaga, pandangan atau dukungan yang mereka berikan pun cenderung lebih spontan dan apa adanya, tanpa kalkulasi tentang bagaimana hubungan jangka panjang bisa terpengaruh. Model self-evaluation maintenance yang dikembangkan oleh Abraham Tesser turut memperkuat gambaran ini.

Dilansir dari PakarKomunikasi.com, model tersebut menjelaskan bahwa manusia membuat perbandingan untuk mempertahankan atau meningkatkan evaluasi diri, dan kinerja luar biasa dari orang lain bisa memperkuat maupun justru mengancam evaluasi diri seseorang tergantung seberapa dekat hubungan psikologis dengan orang yang dibandingkan tersebut. Semakin dekat hubungan itu, semakin besar pula kemungkinan pencapaian kita "mengancam" citra diri mereka, sehingga dukungan yang muncul bisa jadi tidak sepenuhnya lepas dari kepentingan menjaga posisi diri sendiri.

Penting untuk dipahami bahwa dukungan dari orang dekat sejatinya tidak selalu berkurang nilainya. Rasa sayang dan kekhawatiran mereka justru kerap membuat kritik terasa lebih berat, padahal niatnya baik. Sementara itu, dukungan dari orang asing terasa ringan justru karena minimnya keterikatan emosional, riwayat panjang, dan potensi perbandingan sosial yang biasanya muncul di antara orang-orang yang saling mengenal.

Alih-alih menganggap salah satu pihak lebih tulus dari yang lain, akan lebih sehat jika kita memahami bahwa setiap bentuk dukungan punya konteks dan motivasinya masing-masing, sehingga kita bisa menerima apresiasi dari siapa pun secara proporsional tanpa mengecilkan makna dukungan yang datang dari orang-orang terdekat.

(Sumber:Khoerul Arif STID Al Biruni)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....