Diet Karnivora Makin Populer, Apa Kata Ahli?

  • 16 Jun 2026 10:13 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Diet karnivora semakin populer di media sosial dan komunitas kebugaran. Pola makan ini mengharuskan pelakunya mengonsumsi makanan yang berasal dari hewan, seperti daging sapi, ayam, ikan, telur, dan produk hewani lainnya, sambil menghindari hampir seluruh makanan nabati.

Pendukung diet ini mengklaim dapat membantu menurunkan berat badan, meningkatkan energi, dan mengurangi peradangan dalam tubuh. Secara teori, diet karnivora termasuk pola makan rendah karbohidrat dan tinggi protein.

Dengan mengurangi asupan karbohidrat secara drastis, tubuh akan lebih banyak menggunakan lemak sebagai sumber energi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pola makan rendah karbohidrat dapat membantu penurunan berat badan dalam jangka pendek, terutama karena berkurangnya asupan kalori dan meningkatnya rasa kenyang.

Namun, manfaat tersebut belum secara khusus membuktikan bahwa diet karnivora lebih unggul dibanding pola makan sehat lainnya. Meski memiliki sejumlah pendukung, banyak ahli gizi mengingatkan bahwa diet karnivora berpotensi menyebabkan kekurangan nutrisi penting.

Buah, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian merupakan sumber serat, vitamin C, antioksidan, serta berbagai senyawa yang berperan dalam menjaga kesehatan tubuh. Menghilangkan kelompok makanan tersebut dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan dan kekurangan zat gizi tertentu.

Peneliti dari Harvard T.H. Chan School of Public Health menjelaskan bahwa konsumsi daging merah dan daging olahan dalam jumlah tinggi secara konsisten dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan beberapa jenis kanker. Karena itu, para ahli menilai masih diperlukan penelitian jangka panjang untuk memastikan keamanan diet karnivora yang sangat membatasi variasi makanan.

Selain itu, serat yang biasanya diperoleh dari makanan nabati berperan penting dalam menjaga kesehatan usus. Menurut Mayo Clinic, serat membantu memperlancar pencernaan, menjaga kadar gula darah, serta mendukung pertumbuhan bakteri baik di dalam usus.

Diet yang minim serat dapat menyebabkan sembelit dan mengganggu keseimbangan mikrobiota usus dalam jangka panjang. Di sisi lain, beberapa pelaku diet karnivora melaporkan penurunan berat badan dan kontrol gula darah yang lebih baik.

Namun para ahli menilai manfaat tersebut bisa jadi berasal dari berkurangnya konsumsi makanan ultra-proses, gula tambahan, dan kalori berlebih, bukan semata-mata karena hanya mengonsumsi produk hewani. Bagi seseorang yang tertarik mencoba diet karnivora, konsultasi dengan dokter atau ahli gizi sangat disarankan, terutama bagi penderita penyakit jantung, gangguan ginjal, atau kolesterol tinggi.

Pemantauan kesehatan secara berkala penting dilakukan untuk memastikan kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi dan tidak muncul efek samping yang merugikan. Diet karnivora masih menjadi topik yang diperdebatkan di kalangan ilmuwan dan praktisi kesehatan.

Meskipun beberapa orang merasakan manfaat tertentu, sebagian besar ahli gizi tetap merekomendasikan pola makan seimbang yang mencakup berbagai jenis makanan bergizi untuk mendukung kesehatan jangka panjang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....