Sonder: Kesadaran bahwa Setiap Orang Memiliki Kisah Hidupnya Sendiri
- 16 Jun 2026 09:04 WIB
- Cirebon
Poin Utama
- Sonder: Kesadaran bahwa Setiap Orang Memiliki Kisah Hidupnya Sendiri
RRI.CO.ID, Cirebon - Saat terjebak macet di jalan raya, pernahkah Anda memperhatikan pengendara lain di sekitar? Mungkin ada seorang ibu yang sedang terburu-buru menjemput anaknya, seorang pekerja yang dikejar tenggat waktu, atau mahasiswa yang sedang memikirkan masa depannya.
Kesadaran bahwa setiap orang memiliki kehidupan yang sama rumit dan pentingnya dengan kehidupan kita sendiri dikenal dengan istilah sonder. Meski belum masuk dalam kamus resmi bahasa Inggris, istilah sonder semakin populer dalam beberapa tahun terakhir.
Kata ini diperkenalkan oleh penulis dan pembuat proyek The Dictionary of Obscure Sorrows, John Koenig. Koenig mendefinisikan sonder sebagai perasaan tiba-tiba ketika seseorang menyadari bahwa setiap orang yang ditemuinya, bahkan orang asing sekalipun, memiliki kehidupan yang kompleks, penuh impian, ketakutan, kegagalan, dan perjuangan yang tidak kalah penting dibanding dirinya sendiri.
| Baca juga: Open Trip Jadi Solusi Liburan Praktis |
Dalam kehidupan modern yang serba cepat, banyak orang tanpa sadar memandang dunia hanya dari sudut pandangnya sendiri. Padahal, setiap individu memiliki cerita yang unik dan sering kali tidak terlihat dari luar.
Menurut psikolog sosial Daniel Goleman, kemampuan memahami pengalaman orang lain merupakan bagian penting dari empati. Empati membantu manusia membangun hubungan yang lebih sehat dan mengurangi kecenderungan untuk menghakimi orang lain hanya berdasarkan penampilan atau perilaku sesaat.
“Empati memungkinkan kita memahami dunia dari perspektif orang lain,” tulis Goleman dalam berbagai kajiannya mengenai kecerdasan emosional.
Konsep sonder juga memiliki keterkaitan dengan penelitian psikologi tentang perspektif sosial. Penelitian menunjukkan bahwa manusia cenderung mengalami egocentric bias, yaitu kecenderungan melihat segala sesuatu dari sudut pandang pribadi.
Kesadaran akan sonder membantu mengurangi bias tersebut. Contohnya dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Seorang kasir yang tampak murung mungkin sedang menghadapi masalah keluarga. Seorang rekan kerja yang terlihat tidak ramah bisa jadi sedang mengalami tekanan mental. Tanpa memahami latar belakang mereka, seseorang berisiko membuat penilaian yang keliru.
Menurut profesor psikologi Elliot Aronson, memahami kompleksitas manusia dapat meningkatkan toleransi sosial dan memperkuat hubungan antarsesama. Di era media sosial, konsep sonder menjadi semakin relevan.
Banyak orang hanya menampilkan sisi terbaik kehidupannya di internet. Akibatnya, pengguna lain sering merasa hidupnya kurang berhasil dibandingkan orang lain. Padahal di balik unggahan yang tampak sempurna, setiap orang tetap menghadapi tantangan yang tidak selalu terlihat.
Kesadaran akan sonder mengingatkan bahwa kehidupan manusia jauh lebih luas daripada apa yang tampak di layar ponsel. Setiap individu memiliki cerita yang tidak sepenuhnya diketahui orang lain.
Bagi sebagian orang, memahami sonder dapat menjadi cara untuk melatih empati dan menghargai keberagaman pengalaman hidup manusia. Ketika seseorang menyadari bahwa setiap orang sedang berjuang dalam versinya masing-masing, rasa pengertian dan kepedulian sosial pun dapat tumbuh.
Pada akhirnya, sonder bukan sekadar istilah unik yang jarang dikenal publik. Ia merupakan pengingat bahwa di balik setiap wajah yang kita temui, terdapat kisah kehidupan yang sama berharganya dengan kisah kita sendiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....