Asal-Usul Nama Boyolali dan Perjalanan Sejarahnya sejak 1847

  • 17 Jun 2026 06:43 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID Cirebon– Asal-usul nama Boyolali hingga kini masih lekat dengan cerita rakyat yang berkembang di tengah masyarakat. Menurut kisah dalam Serat Babad Pengging dan Serat Mataram, nama Boyolali belum dikenal pada masa Kerajaan Demak Bintoro maupun Kerajaan Pengging. Nama tersebut diyakini berasal dari kisah perjalanan dakwah Ki Ageng Pandan Arang, Bupati Semarang pada abad ke-16, atas perintah Sunan Kalijaga menuju Gunung Jabalkat di Tembayat, Klaten.

Dalam perjalanannya, Ki Ageng Pandan Arang dikisahkan beristirahat di sebuah batu besar di tengah sungai setelah menempuh perjalanan panjang dan meninggalkan keluarganya. Saat itu beliau mengucapkan kalimat dalam bahasa Jawa, "Bayawis lali wong iki," yang secara umum dimaknai sebagai ungkapan seseorang yang melupakan sesuatu atau orang lain. Dari ucapan tersebut, masyarakat meyakini lahir nama "Boyolali" yang kemudian digunakan hingga sekarang.

Secara administratif, Kabupaten Boyolali didirikan pada tahun 1847 pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Wilayah Boyolali pada awalnya merupakan bagian dari Kasunanan Surakarta, namun dikelola oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai bagian dari wilayah karesidenan.

Mengutip laman resmi Pemerintah Kabupaten Boyolali, Hari Jadi Kabupaten Boyolali ditetapkan pada tanggal 5 Juni 1847. Penetapan tersebut didasarkan pada surat perjanjian dalam nota yang berbunyi "Dinten Setu Wage kaping 21 Jumadil Akhir, Dhal 1775, Dhukut Sedha" atau Staatsblad Tahun 1847 Nomor 30 tertanggal 5 Juni 1847.

Berdasarkan dasar hukum tersebut, kemudian diterbitkan Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Boyolali Nomor 3 Tahun 1982 tentang Sejarah dan Hari Jadi Kabupaten Boyolali. Peraturan tersebut diundangkan dalam Lembaran Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Boyolali Nomor 5 tanggal 22 Maret 1982 Seri D Nomor 3.

Kabupaten Boyolali memiliki sumber daya alam yang melimpah dan wilayah yang subur. Pada masa kolonial Belanda, Boyolali dikenal sebagai daerah agraris dengan mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani. Sistem perkebunan dan tanam paksa juga pernah diterapkan di wilayah ini.

Pada masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia, Boyolali turut berperan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan menjadi basis gerilya bagi sejumlah tokoh serta pasukan rakyat. Setelah Indonesia merdeka, Boyolali berkembang menjadi pusat pertanian dan peternakan, khususnya sapi perah, sehingga dijuluki sebagai salah satu sentra susu terbesar di Jawa Tengah. Selain itu, sektor industri kecil, menengah, dan tekstil turut berkembang serta menjadi penopang perekonomian daerah hingga saat ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....