Perfeksionis: Ambisi yang Melelahkan
- 22 Mei 2026 15:53 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Di era media sosial, sifat perfeksionis sering terlihat seperti kelebihan. Orang yang selalu ingin hasil sempurna dianggap disiplin, rapi, dan ambisius. Padahal, di balik kebiasaan mengejar sempurna, banyak orang justru hidup dalam tekanan yang tidak terlihat. Mereka sulit merasa puas, takut gagal, bahkan merasa dirinya tidak cukup baik meski sudah bekerja keras.
Perfeksionisme bukan sekadar ingin melakukan yang terbaik. Penelitian dari Psikologi Kepribadian oleh Paul L. Hewitt dan Gordon L. Flett menjelaskan bahwa perfeksionis sering berkaitan dengan kebutuhan untuk terlihat sempurna di depan orang lain dan ketakutan besar terhadap kesalahan. Kondisi ini dapat memicu stres psikologis, kecemasan, hingga depresi.
| Baca juga: Media Sosial Picu Digital Burnout |
Yang membuat sifat ini relatable adalah banyak orang tidak sadar sedang terjebak di dalamnya. Contohnya sederhana yaitu terlalu lama mengedit pesan sebelum dikirim, takut memulai karena khawatir hasilnya jelek, atau merasa gelisah ketika pekerjaan tidak sesuai ekspektasi. Akibatnya, perfeksionis justru sering berujung pada overthinking dan menunda pekerjaan.
Menariknya, penelitian juga menunjukkan bahwa tidak semua perfeksionisme itu buruk. Ada tipe personal standards atau standar tinggi terhadap diri sendiri yang masih bisa berdampak positif jika tidak dibarengi kritik diri berlebihan. Namun ketika seseorang terus-menerus menyalahkan diri atas kesalahan kecil, dampaknya menjadi tidak sehat.
Media sosial ikut memperkuat sifat perfeksionis. Orang terbiasa melihat pencapaian, wajah sempurna, hingga kehidupan ideal orang lain setiap hari. Tanpa sadar, kita membandingkan proses hidup sendiri dengan highlight kehidupan orang lain. Penelitian tentang digital perfectionism bahkan menyebut teknologi dapat memperbesar rasa takut gagal dan rasa tidak pernah cukup baik.
Ironisnya, perfeksionis sering terlihat kuat dari luar, padahal di dalamnya penuh kecemasan. Mereka takut mengecewakan orang lain, takut dianggap gagal, dan sulit menerima kekurangan diri sendiri. Banyak perfeksionis merasa nilai dirinya hanya ditentukan dari pencapaian, bukan sebagai manusia seutuhnya.
Cara paling sehat menghadapi sifat perfeksionis bukan dengan berhenti berkembang, melainkan memahami bahwa cukup baik sering kali lebih realistis daripada sempurna. Belajar menerima kesalahan, menikmati proses, dan memberi ruang untuk gagal dapat membantu menjaga kesehatan mental tanpa kehilangan semangat untuk bertumbuh.
Hal yang perlu diingat adalah manusia tidak diciptakan untuk selalu sempurna. Kesalahan adalah bagian dari proses hidup. Karena terkadang, yang paling melelahkan bukan pekerjaan yang berat, melainkan tuntutan untuk selalu terlihat tanpa cela.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....