Lelah Kejar Target, Milenial Mulai Tinggalkan "Hustle Culture"
- 26 Mar 2026 07:25 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Selama bertahun-tahun, generasi milenial dikenal sebagai motor penggerak hustle culture atau budaya kerja keras tanpa henti demi meraih kesuksesan materi dan karier. Namun, memasuki tahun 2026, sebuah pergeseran besar terjadi.
Tak lagi hanya didominasi oleh Gen Z, kini semakin banyak kaum milenial yang secara sadar mengadopsi tren soft living. Gaya hidup ini mengedepankan kenyamanan, ketenangan, dan kesejahteraan mental di atas ambisi korporat yang melelahkan.
Fenomena ini muncul sebagai respons kolektif terhadap burnout atau kelelahan mental kronis yang telah mencapai titik jenuh. Milenial, yang kini berada di rentang usia produktif puncak, mulai menyadari bahwa dedikasi berlebih pada pekerjaan sering kali dibayar mahal dengan kesehatan fisik dan hilangnya waktu berkualitas bersama keluarga.
| Baca juga: Cara Mengatasi Kesehatan Mental saat Lelah |
Soft living hadir bukan sebagai bentuk kemalasan, melainkan sebagai upaya untuk mengambil kendali kembali atas ritme hidup yang selama ini terasa terburu-buru. Secara psikologis, transisi milenial ke arah soft living dipicu oleh keinginan untuk memutus rantai stres berkelanjutan.
Jika dulu kesuksesan diukur dari seberapa sibuk seseorang, kini indikatornya bergeser pada seberapa mampu seseorang menjaga work-life balance. Milenial mulai berani menetapkan batasan yang tegas (boundaries) di tempat kerja, seperti menolak lembur yang tidak mendesak atau mematikan notifikasi pekerjaan setelah jam kantor berakhir.
Aspek utama dari soft living bagi milenial adalah memprioritaskan aktivitas yang memberikan ketenangan jiwa secara sederhana. Hal ini bermanifestasi dalam hobi-hobi yang bersifat meditatif, seperti berkebun, memasak dengan santai, hingga melakukan perjalanan tanpa jadwal yang ketat.
Fokusnya bukan lagi pada hasil akhir yang bisa dipamerkan di media sosial, melainkan pada proses menikmati momen saat ini tanpa tekanan untuk selalu menjadi yang terbaik. Para ahli sosiologi mencatat bahwa tekanan ekonomi dan ketidakpastian global juga turut mempercepat adopsi gaya hidup ini.
Milenial mulai merasa bahwa mengejar standar gaya hidup mewah yang dipaksakan hanya akan menambah beban finansial dan mental. Dengan memilih hidup lebih "lembut", mereka justru menemukan kebahagiaan dalam kesederhanaan dan penghematan yang lebih bermakna, yang pada akhirnya memberikan rasa aman secara emosional.
Dampak dari tren ini mulai terasa di dunia profesional, di mana banyak perusahaan kini harus beradaptasi dengan permintaan karyawan milenial yang menginginkan fleksibilitas lebih tinggi. Perusahaan yang masih menerapkan budaya kompetisi toksik mulai ditinggalkan, sementara lingkungan kerja yang mendukung kesehatan mental menjadi daya tarik utama.
Soft living bagi milenial adalah bentuk protes diam-diam terhadap sistem yang menuntut produktivitas tanpa batas. Kesimpulannya, adopsi soft living oleh generasi milenial menandakan fase pendewasaan dalam memandang arti kehidupan yang sesungguhnya.
Hidup tidak lagi dianggap sebagai perlombaan lari cepat, melainkan perjalanan yang perlu dinikmati setiap langkahnya. Dengan memprioritaskan diri sendiri, milenial berharap dapat pulih dari burnout berkepanjangan dan membangun masa depan yang lebih stabil secara psikologis maupun fisik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....