Sering "Ngambek" tanpa Sebab? Ini Alasan Medisnya

  • 26 Mar 2026 06:55 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Pernahkah Anda merasa sangat mudah tersinggung atau marah hanya karena masalah sepele setelah begadang semalaman? Fenomena "ngambekan" atau suasana hati yang tidak stabil saat kurang tidur ternyata bukan sekadar perasaan subjektif, melainkan respons biologis yang nyata.

Para ahli kesehatan mental mengungkapkan bahwa otak manusia mengalami perubahan cara kerja yang drastis ketika waktu istirahat tidak terpenuhi secara optimal. Alasan utama di balik perilaku ini terletak pada bagian otak yang disebut amigdala.

Amigdala adalah pusat pemrosesan emosi di otak yang berfungsi mendeteksi ancaman dan mengatur perasaan seperti marah dan takut. Saat seseorang kurang tidur, amigdala menjadi jauh lebih reaktif bahkan hingga 60% lebih sensitif dari biasanya.

Hal inilah yang membuat stimulus kecil yang biasanya bisa diabaikan, justru terasa sangat mengganggu dan memicu kemarahan. Selain amigdala yang "hiperaktif", koneksi antara amigdala dengan korteks prefrontal (bagian otak yang bertugas mengontrol logika dan pengambilan keputusan) menjadi terputus saat kita lelah.

Dalam kondisi normal, korteks prefrontal berfungsi sebagai rem yang meredam emosi berlebih. Namun, tanpa tidur yang cukup, rem ini blong, sehingga emosi negatif langsung meledak tanpa sempat disaring oleh logika atau pertimbangan sosial.

Kurang tidur juga mengganggu keseimbangan neurotransmiter di otak, terutama serotonin dan dopamin. Serotonin berperan penting dalam menjaga suasana hati tetap stabil dan tenang.

Ketika tingkat serotonin terganggu akibat pola tidur yang buruk, seseorang akan kehilangan kemampuan untuk merasa bahagia atau sabar, yang kemudian bermanifestasi menjadi sikap mudah merajuk, sinis, hingga perasaan sedih yang mendalam secara tiba-tiba. Dari sisi hormonal, tubuh yang kurang istirahat akan memproduksi hormon kortisol atau hormon stres secara berlebihan.

Kortisol yang tinggi menempatkan tubuh dalam mode "siaga" atau fight-or-flight, yang membuat seseorang merasa selalu dalam tekanan. Dalam kondisi penuh tekanan ini, toleransi terhadap kesalahan orang lain atau hambatan kecil menjadi sangat rendah, sehingga respons emosional yang muncul adalah perilaku defensif atau marah.

Dampak dari "ngambek" akibat kurang tidur ini tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga merusak hubungan interpersonal di kantor maupun keluarga. Komunikasi yang buruk dan reaktivitas emosional sering kali memicu konflik yang tidak perlu.

Para psikolog menyarankan jika Anda merasa emosi mulai tidak stabil, sebaiknya tunda pengambilan keputusan besar dan prioritaskan tidur berkualitas selama 7 hingga 9 jam untuk memulihkan fungsi otak. Sebagai langkah awal pemulihan, menjaga kebersihan tidur atau sleep hygiene sangatlah krusial.

Membatasi penggunaan gawai sebelum tidur dan menciptakan lingkungan kamar yang sejuk dapat membantu tubuh masuk ke fase tidur dalam yang lebih cepat. Ingatlah bahwa suasana hati yang ceria dan kesabaran yang luas bermula dari bantal yang nyaman dan waktu istirahat yang cukup, bukan sekadar pengendalian diri semata.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....