Kebiasaan Gen Z Sering Dicap Malas Boomer
- 25 Jan 2026 17:45 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Jurang perbedaan antargenerasi atau generation gap semakin nyata terlihat di dunia kerja dan kehidupan sehari-hari. Gen Z, yang lahir di era digital, seringkali mendapatkan label "pemalas" dari generasi Baby Boomer karena memiliki pendekatan hidup yang sangat berbeda. Padahal, apa yang dianggap malas oleh para senior sering kali merupakan bentuk efisiensi dan adaptasi terhadap perkembangan teknologi yang pesat.
Kebiasaan pertama yang sering disalahpahami adalah Work-Life Balance. Bagi Boomer, loyalitas berarti lembur dan dedikasi penuh pada kantor, sementara Gen Z sangat menjaga batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Di mata Boomer, pulang tepat waktu dianggap kurang ambisius, padahal bagi Gen Z, kesehatan mental dan keseimbangan hidup adalah prioritas utama demi mencegah burnout.
Selanjutnya, penggunaan teknologi dan otomasi sering dianggap sebagai cara "curang" untuk bekerja lebih sedikit. Gen Z cenderung mencari cara tercepat untuk menyelesaikan tugas menggunakan bantuan AI atau aplikasi tertentu. Boomer, yang terbiasa dengan proses manual yang panjang dan melelahkan, sering melihat efisiensi ini sebagai tanda bahwa anak muda sekarang tidak mau bersusah payah atau kurang berusaha.
Fenomena Quiet Quitting juga menjadi pemicu ketegangan. Istilah ini merujuk pada kebiasaan bekerja sesuai dengan porsi dan deskripsi pekerjaan yang ada tanpa mengambil beban tambahan secara cuma-cuma. Boomer melihat ini sebagai kurangnya inisiatif, namun bagi Gen Z, ini adalah cara untuk menuntut kompensasi yang adil dan menolak eksploitasi di tempat kerja yang sering dibungkus dengan istilah "loyalitas".
Kebiasaan keempat adalah fleksibilitas kerja atau Remote Working. Gen Z lebih menyukai bekerja dari kafe atau rumah asalkan tugas selesai, sementara Boomer merasa kerja harus dilakukan di kantor dalam pengawasan langsung. Bagi Boomer, diam di rumah saat jam kerja identik dengan bersantai, padahal fleksibilitas justru seringkali meningkatkan produktivitas karena hilangnya stres akibat kemacetan.
Terakhir adalah cara Gen Z berkomunikasi lewat teks. Alih-alih menelepon atau bertemu langsung, Gen Z lebih nyaman menggunakan pesan singkat yang efektif. Boomer sering menganggap ini sebagai bentuk ketidaksopanan atau rasa malas untuk bersosialisasi secara formal. Padahal, komunikasi asinkron ini memungkinkan Gen Z untuk mengelola waktu dengan lebih fleksibel tanpa gangguan interupsi telepon yang mendadak.
Perbedaan ini pada dasarnya hanyalah masalah perspektif dalam mendefinisikan "kerja keras". Dunia telah berubah, dan pendekatan yang dulu berhasil di era Boomer mungkin tidak lagi relevan di masa sekarang. Alih-alih saling menghakimi, kolaborasi antar generasi justru bisa menciptakan lingkungan yang produktif dengan menggabungkan etos kerja keras Boomer dan efisiensi cerdas ala Gen Z.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....