Sampah Dinilai Bisa Jadi Berkah, Kolaborasi Pemerintah dan Masyarakat Dibutuhkan

  • 30 Agt 2026 15:30 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Sampah dinilai tidak selalu menjadi sumber persoalan lingkungan, tetapi dapat memberikan nilai ekonomi apabila dikelola melalui sistem yang tepat. Pengelolaan tersebut membutuhkan kolaborasi antara masyarakat, pegiat lingkungan, pemerintah, dan berbagai sektor terkait.

Pegiat Lingkungan dan Praktisi Pengelolaan Sampah dengan Sistem TPS 3R di Kabupaten Cirebon, Khusaeri, mengatakan sampah nonorganik yang telah dipilah dapat diproses menjadi bahan yang memiliki nilai jual. Sementara sampah organik dapat dimanfaatkan untuk budidaya magot maupun kebutuhan pertanian.

Ia menceritakan pengalamannya mengelola mesin pemilah dan pengepres sampah pada 2021. Sampah yang masuk terlebih dahulu dipilah dari material seperti kayu, logam, dan batu sebelum diproses menggunakan mesin.

“Setelah masuk mesin, sampah akan dipilah sendiri. Yang organik turun ke bawah dan sudah terbentuk seperti bubur, sedangkan yang nonorganik terpental ke atas kemudian terkumpul lagi,” kata Khusaeri dalam program Green Radio RRI Cirebon, Sabtu 22 Agustus 2026.

Ia mengatakan sampah plastik yang telah dipilah kemudian dapat dipadatkan menggunakan mesin pengepres. Pada saat pengelolaan yang dilakukannya pada 2021, hasil pengepresan tersebut memiliki nilai ekonomi.

“Plastik seperti kresek bekas, wadah, atau plastik bekas es dikumpulkan kemudian dimasukkan ke mesin pres. Satu presan bisa memiliki bobot sampai 50 kilogram dan saat itu harganya sekitar Rp400 sampai Rp500 per kilogram, jadi sebenarnya sampah bisa menghasilkan uang,” ujarnya.

Selain nilai ekonomi dari sampah nonorganik, ia melihat peluang lebih besar dari pemanfaatan sampah organik untuk budidaya magot. Menurutnya, pengembangan magot berpotensi menghasilkan produk turunan dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Ia menyebut magot yang dibudidayakan secara khusus dapat dikembangkan untuk berbagai kebutuhan. Salah satunya adalah pemanfaatan magot sebagai bahan yang dapat menghasilkan minyak setelah melalui proses pengeringan dan pengepresan.

Namun, ia menilai potensi tersebut belum dapat berkembang secara optimal tanpa dukungan dan fasilitasi pemerintah. Ia menyebut pegiat lingkungan dan komunitas budidaya magot masih menghadapi sejumlah kendala, termasuk persoalan pakan, pemasaran, serta dukungan kelembagaan.

Ia berharap pemerintah daerah bersama dinas terkait dapat membangun pola kolaborasi dengan para pegiat lingkungan. Kolaborasi tersebut dinilai dapat memperkuat pengelolaan sampah sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

“Lingkungan yang bersih bukan hanya tanggung jawab pemerintah ataupun petugas kebersihan, tetapi tanggung jawab kita bersama. Jika kita mulai dari sampah di depan rumah sendiri, insyaallah Indonesia khususnya Cirebon akan menjadi daerah yang lebih bersih, sehat dan sejahtera,” katanya.

Menurutnya perubahan pengelolaan sampah harus dimulai dari tindakan sederhana di tingkat rumah tangga. Masyarakat diharapkan tidak lagi melihat sampah sebagai sesuatu yang harus segera dibuang, melainkan sebagai material yang masih dapat dimanfaatkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....