Kesetaraan Gender Dimulai dari Keluarga, Pembagian Tugas Rumah Tangga Perlu Adil
- 29 Agt 2026 09:50 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon – Pengarusutamaan gender dinilai perlu dimulai dari lingkungan keluarga sebagai unit sosial terkecil. Pembiasaan pembagian peran yang adil sejak anak-anak diyakini dapat membentuk cara pandang generasi muda terhadap kesetaraan laki-laki dan perempuan.
Dekan Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Bunga Bangsa Cirebon, Dr. Agus Dian Alirahman, M.Pd., mengatakan keluarga memiliki pengaruh besar dalam membentuk perspektif seseorang mengenai peran laki-laki dan perempuan.
Menurutnya pembelajaran mengenai kesetaraan tidak harus selalu disampaikan melalui teori. Hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari, termasuk pembagian pekerjaan rumah tangga, dapat menjadi sarana pendidikan gender bagi anak.
Ia mencontohkan pengalaman masa kecilnya ketika sang ayah mengajarinya melakukan berbagai pekerjaan rumah tangga, seperti mencuci piring dan menyetrika pakaian. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bekal penting dalam memahami bahwa pekerjaan domestik bukan semata-mata tanggung jawab perempuan.
“Orang tua yang mengajarkan justru Bapak, luar biasa. Itu menjadi bekal saya,” ujarnya dalam dialog “Beranda Asta Cita” RRI Cirebon, Senin 24 Agustus 2026.
Ia mengatakan pembagian tugas rumah tangga sebaiknya dibangun melalui komunikasi antara anggota keluarga. Suami dan istri dapat berbagi tanggung jawab sesuai kondisi dan kesepakatan, tanpa menganggap pekerjaan tertentu secara otomatis menjadi tugas perempuan.
Menurutnya, pola pembagian peran yang terlalu kaku dapat membentuk stereotip sejak anak-anak. Karena itu, anak laki-laki maupun perempuan perlu diberikan kesempatan mempelajari berbagai keterampilan kehidupan tanpa dibatasi anggapan bahwa pekerjaan tertentu hanya cocok untuk salah satu jenis kelamin.
Pengarusutamaan gender juga perlu diterapkan dalam pola pengasuhan. Orang tua, katanya dapat mengenalkan kepada anak mengenai batasan tubuh, hak untuk merasa aman, serta kewajiban menghormati tubuh dan ruang pribadi orang lain.
“Ketika sudah dijelaskan, kita pun sama, punya peran yang sama. Tidak boleh hal ini dilakukan pada orang lain,” katanya.
Selain keluarga, lingkungan pendidikan juga memiliki peran penting dalam membangun pemahaman generasi muda mengenai kesetaraan gender. Ia menilai materi mengenai gender perlu diperkuat dalam proses pembelajaran dan menjadi bagian dari kurikulum yang relevan dengan kehidupan peserta didik.
Ia juga menyoroti peran media sosial dalam membentuk perspektif generasi muda. Banyaknya konten yang menampilkan standar tertentu mengenai bagaimana laki-laki atau perempuan seharusnya bersikap membuat masyarakat perlu lebih kritis dalam menerima informasi.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mempercayai seluruh informasi yang beredar di platform digital. Informasi perlu diperiksa sumber dan kebenarannya agar masyarakat tidak terjebak pada bias, stereotip, maupun penilaian yang merugikan kelompok tertentu.
“Informasi tersebut memang harus dicerna dulu oleh kita. Tentu kita perhatikan apakah ini betul atau tidak, bisa dilihat dari sumbernya,” ujarnya.
Ia menambahkan, kesetaraan gender juga perlu dipahami sebagai tanggung jawab laki-laki dan perempuan. Menurutnya, isu gender tidak seharusnya hanya dianggap sebagai persoalan perempuan, karena stereotip gender juga dapat membatasi laki-laki dalam menjalankan perannya.
Ia mencontohkan fenomena seorang ayah yang tetap mengasuh anak sambil bekerja dan mendapat banyak pujian dari masyarakat. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan masih adanya pandangan bahwa aktivitas pengasuhan merupakan sesuatu yang luar biasa ketika dilakukan laki-laki, padahal pekerjaan serupa telah lama dilakukan perempuan.
Karena itu, ia mendorong masyarakat mengubah cara pandang terhadap pembagian peran dalam keluarga. Baik laki-laki maupun perempuan perlu dihargai berdasarkan kontribusi dan tanggung jawabnya, bukan berdasarkan stereotip yang telah terbentuk di masyarakat.
“Tidak ada keberpihakan. Termasuk ketika sesuatu hal yang merugikan pun tidak boleh berpihak,” katanya.
Ia berharap pendidikan kesetaraan gender dapat dilakukan secara konsisten melalui keluarga, sekolah, lingkungan kerja, dan masyarakat. Menurutnya, perubahan cara pandang tidak dapat dilakukan secara instan, tetapi membutuhkan proses pendidikan dan keteladanan yang berkelanjutan.
“Ketika ada niat baik, maka lakukan dengan cara baik supaya menghasilkan yang baik juga,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....