Indeks Pembangunan Gender Cirebon Tinggi, Peran Perempuan Dinilai Semakin Kuat
- 29 Agt 2026 09:40 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon – Pengarusutamaan gender dinilai menjadi bagian penting dalam memaknai kemerdekaan Indonesia. Kesetaraan kesempatan antara laki-laki dan perempuan perlu terus diperkuat agar semangat kemerdekaan tidak berhenti pada perayaan seremonial.
Dekan Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Bunga Bangsa Cirebon, Dr. Agus Dian Alirahman, M.Pd., mengatakan pengarusutamaan gender merupakan proses untuk menempatkan isu gender sebagai bagian penting dalam perencanaan program, pengambilan keputusan, hingga pelaksanaan pembangunan.
Menurutnya gender berbeda dengan jenis kelamin. Gender berkaitan dengan perbedaan sifat, peran, dan posisi laki-laki serta perempuan yang terbentuk dan dipengaruhi oleh masyarakat, budaya, agama, politik, maupun sistem ekonomi.
Ia menyebut kondisi kesetaraan gender di Cirebon menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Berdasarkan data yang disampaikannya dalam dialog “Beranda Asta Cita” RRI Cirebon, Senin 24 Agustus 2026, Indeks Pembangunan Gender (IPG) Kabupaten Cirebon pada 2025 mencapai 85,91, sementara Kota Cirebon mencapai 96,92.
Ia menilai capaian tersebut tidak terlepas dari semakin kuatnya peran perempuan dalam berbagai bidang kehidupan. Perempuan Cirebon, kata dia, tidak lagi hanya ditempatkan pada ruang domestik, tetapi telah berkontribusi dalam pendidikan, pekerjaan, pembangunan, maupun ruang publik.
“Peran-peran perempuan di Cirebon ini sangat luar biasa,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan capaian tersebut tidak boleh membuat masyarakat berhenti memperkuat kesetaraan gender. Perubahan sosial yang terus berlangsung membutuhkan upaya berkelanjutan agar kemajuan yang telah dicapai dapat dipertahankan dan ditingkatkan.
Ia menekankan kesetaraan gender bukan berarti menghilangkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan, melainkan memastikan keduanya memiliki kesempatan yang adil untuk berkembang sesuai kompetensi yang dimiliki.
Menurutnya, perubahan zaman juga membuat ukuran keberhasilan tidak lagi semata-mata didasarkan pada persaingan untuk menjadi yang paling unggul. Masyarakat perlu bergeser menuju penguatan kompetensi agar setiap individu, baik laki-laki maupun perempuan, dapat memberikan kontribusi secara optimal.
Ia menambahkan, semangat kemerdekaan ke-81 dapat diterjemahkan melalui tiga nilai utama, yakni berdaulat, adil, dan makmur. Kedaulatan berkaitan dengan kemandirian seluruh warga, termasuk perempuan, untuk memiliki kontrol atas pilihan hidupnya.
Sementara itu, nilai keadilan diwujudkan dengan menghapus bias dan ketimpangan gender serta memastikan kesetaraan akses terhadap pembangunan. Adapun kemakmuran dapat tercapai melalui keterlibatan optimal perempuan dalam perekonomian dan pembangunan sumber daya manusia.
Ia juga menegaskan pengarusutamaan gender bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Keluarga, sekolah, lingkungan kerja, masyarakat, hingga setiap individu memiliki peran yang saling berkaitan dalam menciptakan lingkungan yang adil dan setara.
“Ini adalah tanggung jawab bersama. Tetapi bagaimana tanggung jawab ini bisa terbentuk? Perannya itu harus sinergis,” katanya.
Ia berharap momentum kemerdekaan dapat menjadi pengingat bahwa perjuangan membangun Indonesia belum selesai. Penguatan kesetaraan gender perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui pendidikan, keluarga, lingkungan sosial, serta kebijakan pembangunan.
“Silih asah, silih asih, silih asuh. Mari kuatkan silaturahim persaudaraan untuk menjadikan negara kita Indonesia menjadi negara yang memiliki peradaban, kemajuan, dan tentu keberkahan,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....