Baru 5% Warga Desa Ciawigajah Kabupaten Cirebon Pilah Sampah

  • 26 Agt 2026 17:00 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Di tengah berkembangnya fasilitas pengolahan sampah di Desa Ciawigajah, Kecamatan Beber, Kabupaten Cirebon, kesadaran masyarakat untuk memilah sampah dari rumah masih menjadi tantangan karena baru sekitar 5 persen dari 1.700 rumah yang telah melakukan pemilahan. Pemerintah desa terus melakukan sosialisasi dan melibatkan sekolah serta Posyandu untuk mendorong masyarakat memisahkan sampah organik dan nonorganik sejak dari sumbernya.

Kepala Desa Ciawigajah, Nunung Nurhadi, mengatakan perubahan kebiasaan masyarakat tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat karena membutuhkan proses untuk mengubah pola pikir dan perilaku dalam mengelola sampah. Sosialisasi pemilahan sampah dari rumah telah dilakukan selama sekitar dua tahun dan masih terus dilaksanakan hingga saat ini.

“Selama 2 tahun itu kita sosialisasi tentang memilah sampah dari rumah. Ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan,” ujar Nunung.

Dari sekitar 1.700 rumah yang berada di Desa Ciawigajah, baru sekitar 5 persen masyarakat yang secara rutin memilah sampah dari rumah sebelum diserahkan kepada petugas. Pemerintah desa telah menyediakan fasilitas untuk sampah organik dan nonorganik agar kedua jenis sampah tersebut tidak tercampur sejak dari sumbernya.

“Ini dari 1.700 rumah, hanya 5 persen yang mau melakukan pemilahan sampah di rumah,” kata Nunung.

Untuk meningkatkan kesadaran sejak usia dini, Pemerintah Desa Ciawigajah menerapkan program pengumpulan sampah nonorganik di sekolah-sekolah. Setiap hari Rabu, siswa diwajibkan membawa sampah nonorganik dari rumah untuk dikumpulkan di sekolah sebelum dikirimkan ke bank sampah yang berada di Ciawigajah.

Selain sekolah, Posyandu juga dilibatkan dalam upaya membangun kebiasaan memilah sampah di tingkat keluarga. Ibu-ibu yang datang ke Posyandu diwajibkan membawa sampah nonorganik dari rumah setiap bulan, kemudian sampah tersebut dikumpulkan dan hasilnya dihitung untuk ditukar dengan sembako setiap tahun.

Nunung mengatakan berbagai pendekatan tersebut dilakukan karena persoalan sampah tidak akan selesai hanya dengan membangun fasilitas pengolahan di hilir. “Karena kami pikir di mana manusia masih hidup, ada kehidupan, di situ sampah akan ada,” ucapnya.

Di sisi lain, petugas pengangkutan sampah juga masih menemukan sampah warga yang tercampur ketika melakukan pengambilan dari rumah-rumah. Kondisi tersebut membuat sampah tetap harus dipilah kembali oleh tim di TPS 3R Ciawigajah, sehingga pemerintah desa menilai perubahan perilaku masyarakat dari tingkat rumah tangga menjadi bagian penting untuk mendukung sistem pengolahan yang telah dibangun.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....