Paham Keagamaan Muhammadiyah dan Jalan Tengah
- 27 Mar 2026 13:40 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Bukittinggi - Gema takbir perayaan Idul Fitri 1447 H baru saja berlalu, namun sisa-sisa diskusi mengenai perbedaan penetapan awal Syawal di tengah masyarakat masih menyisakan ruang refleksi yang mendalam.
Perbedaan hari raya yang kembali terjadi tahun ini menjadi momentum penting untuk meninjau ulang bagaimana umat Islam menyikapi keragaman metodologi dengan cara yang dewasa dan ilmiah.

Menanggapi situasi tersebut, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Payakumbuh, Dr. Irwandi Nashir, membagikan pemikirannya dalam sebuah wawancara khusus dengan RRI, Jumat (27/3/2026).
Ia menekankan bahwa perbedaan adalah keniscayaan dalam ijtihad, namun yang paling krusial adalah memahami kompas metodologi di baliknya.

Bermazhab secara Manhaji: Kompas di Tengah Perbedaan
Dr. Irwandi menjelaskan bahwa posisi Muhammadiyah dalam beragama adalah "tidak anti-mazhab, namun juga tidak membebek buta". Ia mengemukakan bahwa slogan "Kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah" yang sering bergema harus dibarengi dengan perangkat ilmu yang matang agar tidak terjebak pada penafsiran "liar" yang tercerabut dari tradisi keilmuan.
"Muhammadiyah tidak berafiliasi secara qauli—yaitu mengambil produk hukum jadi dari satu mazhab secara mutlak. Sebaliknya, kami menggunakan metodologi ijtihad (Ushul Fiqh) yang telah disaring oleh para imam mazhab besar. Inilah yang disebut bermazhab secara manhaji," ungkap dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Bukittinggi ini.
Menurutnya, jalan tengah ini memungkinkan umat memiliki rujukan standar namun tetap terbuka pada dalil yang lebih kuat (rajih).
Bahaya Ijtihad Amatir dan Pentingnya Otoritas Kolektif
Salah satu poin tajam yang disorot pasca-Ramadhan ini adalah fenomena "ijtihad amatir" di media sosial. Dr. Irwandi mengibaratkan orang yang membedah syariat tanpa penguasaan ilmu Rijal al-Hadith atau Ushul Fiqh seperti seseorang yang melakukan bedah jantung tanpa latar belakang medis."Hal itu hanya akan melahirkan kekacauan hukum atau Fawda al-Fatawa," tegasnya.
Sebagai solusi untuk meredam subjektivitas individu, Muhammadiyah konsisten menerapkan Ijtihad Jamai (kolektif) melalui Majelis Tarjih. Bagi masyarakat awam, posisi yang didorong adalah Ittiba'—mengikuti pendapat dengan mengetahui argumentasi dalilnya, bukan sekadar menjadi pengikut buta (Taqlid A'ma).
Meluruskan Praktik Talfiq dan Prinsip Kemudahan
Dr. Irwandi juga meluruskan anggapan miring mengenai Talfiq atau mencampuradukkan pendapat antar-mazhab. Muhammadiyah sepakat bahwa mencampur pendapat hanya demi "mencari yang paling mudah" (Tatabbu' al-Rukhas) tanpa dasar dalil dapat merusak disiplin beragama.
Namun, ia menekankan bahwa jika sebuah mazhab memiliki dalil yang lebih autentik atau maslahat, maka mengambil pendapat tersebut adalah bentuk loyalitas pada kebenaran. "Di sini, prinsip Taisir (kemudahan) dijalankan bukan karena malas, melainkan karena mengikuti petunjuk dalil yang paling maslahat bagi publik," imbuhnya.
Dakwah Jalan Tengah
Ketegangan akibat pelabelan "bid'ah" sering kali merusak ukhuwah Islamiyah pasca-lebaran. Dr. Irwandi mengajak umat untuk beralih ke pendekatan Wasathiyah (moderat). Muhammadiyah sendiri menggunakan pendekatan terpadu: Bayani (teks), Irfani (etika), dan Burhani (rasio/sains)."Menyerang tradisi masyarakat dengan cara yang keras tanpa memahami akar metodologinya hanya akan menciptakan kegamangan rujukan.
Muhammadiyah lebih mengedepankan mencerahkan umat berbasis dalil yang menyejukkan daripada pelabelan sesat yang memecah belah," tuturnya dengan tenang.
Sebagai penutup paparannya,Dr. Irwandi Nashir menegaskan bahwa bermazhab bagi Muhammadiyah adalah menghormati sejarah tanpa harus terbelenggu di masa lalu.
Ia menekankan pentingnya Tajdid (Pembaruan) agar agama tetap mampu menjawab tantangan kemanusiaan modern yang kian kompleks."Bermazhab secara manhaji adalah cara kami menghormati para imam terdahulu sembari tetap membuka mata pada realitas zaman. Itulah esensi paham keagamaan yang berkemajuan, yaitu kokoh dalam prinsip, namun luwes dalam solusi," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....