Puasa dan Pendidikan Kemanusiaan
- 23 Feb 2026 09:33 WIB
- Bukittinggi
Prof. Dr. H. Masri Mansoer
Ketua Badan Persiappan Provinsi Daerah Istimewa Minangkabau (BP2DIM)
RRI,CO.ID,Jakarta - Sebagaimana diketahui manusia yang terdiri atas jasmani/fisik dan rohani/psikis. Al-Quran meggambarkan dengan menggunakan tiga kata yaitu: al-Basyar, al-Insan dan al-Naas. Ketiga kata ini juga menggambarkan dimensi manusia sebagai makhluk biologis, individual dan sosial.
Dimensi al-Basyar, yaitu dimensi yang berkaitan fisiologis atau biologis manusia karena itu manusia membutuhkan makan minum dan berkembang biak (nafsu sex). Nabi Muhammad juga tidak lepas dari aspek al-Basyarnya Ana basyarun mislukum (al-Kahfi: 110). Pada dimensi ini kita sebenarnya sama dengan tumbuhan dan binatang, tidak jauh lebih hebat dan kuat dari binatang-gajah umpamanya dia mampu membawa beban yang berat, tapi manusia paling kuat seperti Martin Tye hanya mampu memikul 505 kg. Jadi kalua manusia hanya mengutamakan fisik binatang jauh lebih kuat dan hebat dari manusia. Karena itu jangan membanggakan diri secara fisik.
Dengan berpuasa menahan makan-minum, tidak berhubungan suami-istri di siang hari dan mengendalikan pancaindra. Ini adalah cara Tuhan untuk membuat fisik kita sehat dan kuat, sebab 90 % penyakit bisa masuk melalui apa yang dimakan-minum. Puasa juga akan menstimulan hormon endorfin yang dibutuhkan oleh fisik agar selalu sehat dan bugar. Jadi puasa bertujuan menjaga kebaikan dari dimensi al-basyariah sehingga dengan itu manusia akan memperoleh kesempurnaan dan kebahagian pada aspek basyariyahnya. Kalua kita puasa baru pada dimensi ini berarti baru puasa orang awam-yang menahan haus dan lapar, tentu kita perlu naik ke tingkat puasa orang khusus.
Dimensi kedua adalah al-Insan, yaitu dimensi sebagai makhluk berakal/bertuhan/spiritual, karenanya mansia mampu melahirkan ilmu pengetahuan-teknologi mengatasi dimensi kelemahan aspek basyariahnya. Beragama, kerinduan terhadap Tuhan, kebahagian dan ketenangan dalam hidup, karena memang kita semua telah bersyahad dialam ruh dengan Tuhan alastu birabbikum qaaluu bala syahidna (al-`Araf: 172).
Dimensi insasi manusia merupakan bentuk ciptaan Allah terbaik kepada manusia dengan diberi potensi akal-yang tidak ada pada makhluk lain. Potensi ini harus dikembangkan dengan belajar dan digunakan untuk menghasilkan berbagai ilmu pengetahuan, teknologi dan system aturan hidup yang baik dalam rangka ibadah kepada Allah dan ihsan kepada sesama. Bila hal ini tdak dilakukan, maka manusia akan menjadi makhluk yang hina dina, sebagaiman firman Allah:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ ثُمَّ رَدَدْنٰهُ اَسْفَلَ سٰفِلِيْنَۙ
sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian, kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (al-Tin: 4-5)
Sebenarnya secara kodrati tidak ada manusia yang tidak bertuhan, tetapi mungkin mereka menolak Tuhan yang dikonsepsikan oleh agama dan pandangan tertentu. Dewasa ini ditengah peradaban yang sekuler banyak lahir kelompok-kelompok spiritualitas tapi mereka tidak mau berafiliasi dibawah satu agama, itu bukti bahwa tiada manusia tanpa Tuhan, karena itu akan menafikan dimensi al-Insaniyahnya sebagai manusia.
Dengan puasa kita menahan dan mengendalikan akal dan daya rohani kita dari hal-hal yang tidak baik dan tidak bermanfaat dan melatih diri mengasah zikir dan pikir dalam setiap dimensi kehidupan sehingga sampai kepada kesimpulan rabbana ma khalaq ta haza bathila. Dengan demikian kita sudah naik tingkat ke puasa khusus atau ulul albab.
Dimensi al-Naas, yaitu manusia sebagai makhluk sosial yang butuh kerjasama, berkomunikasi, berinteraksi dan menunjukan eksistensi diri kepada sesama, bahkan kita menjadi manusia dengan bersama manusia lainnya. Karena itu dengan dimensi ini kita membentuk keluarga, grup, kelompok dan masyarakat serta nation (bangsa). (Kanannaasu ummatan wahidah, al-baqarah 213)
Dalam puasa kita dilatih menahan amarah, toleransi, empati, berbagi, membatu dan berbuat baik kepada sesama. Utamanya dalam situasi kehidupan ekonomi sulit ini menuntut kita mewujudkan dimansi al-Naas kita dengan saling berbagi dan membantu saudara kita yang terdampak musibah dan kesulitan ekonomi. Memberi, menolong dan berbagi itulah kesempurnaan dan kebahagian dimensi al-Naas manusia. Itulah puasa tingkat khusus bil khusus mempuasakan fisik dan rohani sera mejawantahkan dalam kehidupan sosial.
وَأَحۡسِن كَمَآ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ وَلَا تَبۡغِ ٱلۡفَسَادَ فِي ٱلۡأَرۡضِۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ
Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada engkau, janganlah berbuat kerusakan di bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (al-Qasas: 77)
Kalua puasa baru pada taraf menahan haus dan lapar dan hubungan suami-istri binatang jauh lebih hebat dari manusia kualitas puasa mereka. Coba perhatikan ayam dengan dia puasa mengerami telornya atau telor bebek, mereka berhasil melahirkan generasi baru (anak ayam atau bebek). Ular habis makan besar (karena dapat mangsa) mereka berpuasa dalam beberapa waktu dan berhasil mengubah dirinya dengan berganti kulit baru. Ulat dengan puasa berubah menjadi kepompong dan dari itu melahirkan kupu-kupu yang indah dan bisa terbang dengan cepat-tidak lagi merayap ketika masih ulat, melampaui kemampuannya sebagai ulat yang tadinya merayap dan menakutkan. Jadi kalua mereka yang puasa tidak mampu membawa perubahan terhadap diri sendiri dan masyarakat kea rah yang lebih baik dan berkemajuan, binatang jauh lebih bermakna dan hebat puasanya dari mereka yang ber-Islam.
Manusia sempurna adalah manusia yang mampu mengembangkan dan menyeimbangkan dimensi-dimensi qudrati al-basyar, al-insan dan al-naas yang ada dalam dirinya secara proporsional dan baik. Jadi kalua manusia betul-betul memahami dan menginternalisasi nilai-nilai puasa dalam kehidupan maka manusia akan menjadi manusia yang sempurna dan bisa naik ke alam malakut dan lahut, sebagaimana naik levelnya ulat menjadi kupu-kupu.
Semoga puasa yang kita jalankan dapat memproses dan mengantarkan kita kepada manusia yang sejatinya serta dapat semakin menyempurnakan kemanusian kita, dan Allah membimbing kita menjadi manusia yang sempurna.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....