Puasa dan Pengelolaan Sampah
- 09 Feb 2026 21:46 WIB
- Bukittinggi
Oleh : Prof. Asyari
Guru Besar Ekonomi/Ketua Pusat Kajian Pengembangan Ekomomi Umat FEBI UIN Bukittinggi
RRI.CO.ID,Bukittinggi - Banyak dan mengunungnya tumpukan sampah di beberapa kota besar di Indonesia akhir-akhir ini menunjukkan perilaku menyisakan makanan (food waste) di tengah masyarakat berada di level meresahkan dan butuh perhatian serius.
Menurut United Nations Environment Programme (UNEP) dalam Food Waste Index 2024, Indonesia termasuk negara yang produktif dalam menghasilkan sampah makanan di Asia Tenggara. Diprediksi tahun 2045 akan teramulasi menjadi 344kg/kapita/tahun.
Laporan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, komposisi waste yang terbesar adalah berasal dari makanan (food) sebesar 40, 3%, diikuti oleh limbah plastik sebesar 17,1% dan kayu sebesar 14,1%.
Perilaku menyisakan makanan berefek pada semesta kehidupan kita. Kaur dan kawan-kawan (2020) mengungkap bahwa sisa makanan bisa mengancam ketahanan pangan, menimbulkan climate change, dan kerugian secara ekonomi (monetary loss). Perilaku food waste merupakan bentuk pemubaziran sumber daya di kala kelaparan dan bayi kekurangan gizi kian mengurita.
Banyak riset telah mengungkap faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku food waste. Pandangan positif dan negatif dari seseorang (attitude) terhadap perilaku menyisakan makanan menjadi faktor vital dan fundamental. Di negara-negara baik mayoritas berpenduduk muslim (moslem countries) maupun minoritas ditemukan attitude ini memiliki hubungan dan pengaruhi perilaku food waste.
Lingkungan sosial dalam bentuk pandangan dan approval orang sekitar (anggota keluarga dan kolega) dan orang-orang yang ditaulandani serta pemimpin tentang food wate baik atau tidak baik dilakukan menjadi normatif belief yang mempengaruhi perilaku food waste. Perilaku food waste akan subur pada lingkungan sosial yang tidak peduli atau memberikan dukungan positif tehadap food waste.
Persepsi seseorang tentang kemampuannya untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu perbuatan menjadi faktor penting juga sebagai penentu perilaku food waste. Artinya ketika dipandang tidak sulit atau tidak ada kendala untuk food waste, maka keinginan untuk mengurangi perilaku menyisakan makanan akan rendah.
Selain itu, perilaku pro-social yang merupakan perilaku seseorang dalam bentuk keberpihakan atau kepedulian terhadap efek negatif food waste terhadap lingkungan semesta. Orang yang memiliki perilaku pro-social ini berarti ia menjadi individu yang memiliki concern. Setiap orang yang concern akan memiliki atensi dan care serta sensitif kepada sesuatu yang berefek negatif terhadap lingkungan termasuk yang ditimbulkan oleh perilaku food waste. Kesadaran akan konsekuensi bagi lingkungan baik secara langsung atau tidak dapat mempengaruhi perilaku food waste.
Islam memberikan perhatian serius pada makanan dan pengendalian perilaku konsumsi melalui penetapan varian-varian makanan dan perintah menjaga keseimbangan alam. Pengendalian mankana dengan puasa.
Upaya mengurangi food waste dilakukan melalui penetapan jenis makanan yang halal dan haram serta dengan mencela cara makan yang mubazir (perilaku extravagansi). Penetapan ini merupakan bentuk pembatasan yang dimaksudkan untuk mencegahkan potensi food waste.
Ibadah puasa yang akan dilaksanakan dapat mengedukasi muslim untuk mengurangi perilaku menyisakan makanan melalui edukasi hidup sederhana, hemat dan kontrol hawa nafsu yang kuat mendorongan ke hal-hal berlebihan. Rasulullah Saw menganalogikan perilaku manusia yang hidup mengikuti hawa nafsu sebagai potret hidup tanpa mengenal batas kepuasan (utiliti).
Rasulullah Saw bersabda: “Andaikan seorang anak Adam (manusia) mempunyai satu lembah emas, pasti ia ingin mempunyai dua lembah, jika dua sudah dimiliki maka akan ingin tiga dan begitu seterusnya. Tiada yang dapat menutup mulutnya (menghentikan kerakusannya) kecuali tanah (maut), dan Allah berkenan memberi taubat kepada siapa saja yang bertaubat.” (HR. Bukhori dan Muslim).
Ibadah puasa mesti dilaksanakan dengan penuh keimanan agar berdampak ke lingkungan dalam bentuk perilaku yang mampu mengontrol dan mengelola konsumsi yang zero sisa makanan/sampah
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....