Survei Ungkap Gaji Bukan Satu-satunya Prioritas Pekerja

  • 03 Agt 2026 09:26 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Memiliki pekerjaan dengan penghasilan besar masih menjadi impian banyak orang. Namun, di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat, keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi kini mulai menjadi pertimbangan utama, terutama bagi generasi muda dalam menentukan arah karier.

Pendapatan yang tinggi memang dapat membantu memenuhi kebutuhan hidup, mewujudkan berbagai rencana, hingga memberikan rasa aman secara finansial. Meski demikian, jam kerja yang panjang, tekanan pekerjaan, dan minimnya waktu beristirahat juga dapat berdampak pada kesehatan fisik maupun mental jika berlangsung dalam jangka waktu lama.

Di sisi lain, konsep work-life balance semakin mendapat perhatian. Memiliki waktu untuk keluarga, beristirahat, mengembangkan hobi, atau sekadar menikmati waktu luang dinilai mampu membantu seseorang menjaga kesehatan mental sekaligus meningkatkan produktivitas saat kembali bekerja.

Perubahan cara pandang tersebut juga tercermin dalam Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2025. Survei yang melibatkan lebih dari 23.000 responden di 44 negara itu menunjukkan bahwa keseimbangan hidup, kesejahteraan mental, serta pekerjaan yang memiliki makna kini menjadi faktor penting selain besarnya gaji ketika seseorang memilih tempat bekerja.

Bagi banyak responden dari generasi muda, work-life balance bahkan menjadi salah satu alasan utama untuk bertahan di sebuah perusahaan.

Para pakar karier menilai tidak ada pilihan yang sepenuhnya benar atau salah antara mengejar penghasilan tinggi atau mengutamakan keseimbangan hidup. Setiap orang memiliki kondisi, kebutuhan, dan tujuan yang berbeda sehingga keputusan karier sebaiknya disesuaikan dengan prioritas pada setiap fase kehidupan.

Saat masih membangun karier, seseorang mungkin bersedia menerima tanggung jawab yang lebih besar demi memperoleh pengalaman dan meningkatkan kemampuan.

Namun, ketika tekanan pekerjaan mulai mengganggu kesehatan, hubungan sosial, atau kualitas hidup, evaluasi terhadap ritme kerja menjadi langkah yang tidak kalah penting.

Kini semakin banyak perusahaan yang mulai menerapkan sistem kerja fleksibel, seperti pola kerja hibrida, jam kerja yang lebih adaptif, hingga program dukungan kesehatan mental bagi karyawan.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa kesuksesan karier tidak lagi hanya diukur dari besarnya penghasilan, tetapi juga dari kemampuan menjaga kesehatan, kebahagiaan, dan keseimbangan hidup dalam jangka panjang. (AS/YPA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....