Media Sosial dan Banjir Informasi, Bagaimana Menjaga Pikiran Tetap Sehat
- 23 Agt 2026 20:38 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Media sosial membuat masyarakat menerima berbagai informasi dalam jumlah besar setiap hari.
Kecepatan informasi dapat membantu komunikasi, tetapi juga membuat pikiran lebih mudah mengalami kelelahan.
Banjir informasi dapat membuat seseorang terus mengikuti berita tanpa memberikan waktu untuk beristirahat.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi konsentrasi, kualitas tidur, dan keseimbangan aktivitas sehari-hari.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyoroti pentingnya kebiasaan digital yang lebih sehat bagi remaja.
WHO menyebut penggunaan media digital berlebihan dapat berkaitan dengan berbagai risiko kesehatan mental.
| Baca juga: Peluang Kuliah Gratis yang Jarang Diketahui |
Salah satu langkah sederhana adalah menentukan waktu khusus untuk membuka media sosial.
Masyarakat tidak harus selalu mengikuti setiap informasi yang muncul sepanjang hari.
Mematikan notifikasi yang tidak penting juga dapat mengurangi dorongan memeriksa ponsel secara terus-menerus.
Dengan begitu, perhatian dapat dialihkan kepada pekerjaan, keluarga, istirahat, dan aktivitas lainnya.
Pengguna juga perlu memilih akun yang memberikan informasi bermanfaat dan terpercaya.
Akun yang sering memicu kecemasan, kemarahan, atau perbandingan sosial dapat dibatasi atau dihentikan.
Penelitian menunjukkan hubungan media sosial dengan kesehatan mental memiliki banyak faktor yang saling berkaitan.
Karena itu, penggunaan media sosial perlu dilihat berdasarkan durasi, pola penggunaan, dan kondisi setiap individu.
Membatasi waktu penggunaan media sosial sebelum tidur juga dapat membantu menjaga rutinitas istirahat.
Waktu malam sebaiknya digunakan untuk menenangkan pikiran dan mempersiapkan tubuh beristirahat.
Masyarakat juga perlu membedakan informasi penting dengan konten yang hanya menarik perhatian.
Tidak semua informasi yang viral harus dibaca, dipercaya, atau dibagikan kepada orang lain.
Ketika menemukan informasi yang mengganggu pikiran, pengguna dapat berhenti sejenak sebelum memberikan respons.
Tarik napas, tinggalkan layar, dan lakukan aktivitas sederhana yang membuat tubuh lebih rileks.
Interaksi langsung dengan keluarga dan teman juga penting untuk menjaga keseimbangan kehidupan digital.
Percakapan tatap muka dapat menjadi ruang untuk berbagi pengalaman tanpa bergantung sepenuhnya pada media sosial.
Pew Research Center menemukan sebagian remaja merasa media sosial membantu mereka lebih terhubung dengan teman.
Namun, sebagian lainnya juga menganggap media sosial berdampak buruk terhadap kesehatan mental mereka.
Menjaga kesehatan pikiran bukan berarti harus meninggalkan media sosial sepenuhnya.
Kuncinya adalah menggunakan teknologi dengan batasan, kesadaran, dan kemampuan memilih informasi.
Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan mengatur perhatian menjadi semakin penting.
Dengan kebiasaan digital yang sehat, media sosial dapat menjadi sumber informasi tanpa menguasai kehidupan sehari-hari. (APS/YPA)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....