Cuaca Ekstrem Mengancam, Masyarakat Diminta Waspada
- 24 Agt 2026 07:29 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi tersebut meliputi hujan lebat, angin kencang, dan petir.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG menyebut cuaca Indonesia masih didominasi kondisi kering. Namun, hujan lokal tetap berpotensi terjadi selama periode 21 hingga 27 Agustus 2026.
BMKG mencatat 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau berdasarkan analisis awal Agustus. Curah hujan kategori rendah juga mendominasi 90,79 persen wilayah Indonesia.
Meski demikian, kondisi kemarau tidak berarti seluruh wilayah terbebas dari hujan ekstrem. BMKG menyatakan hujan lokal masih berpotensi terjadi di sejumlah daerah.
BMKG juga mengingatkan masyarakat menghadapi dampak El Niño yang semakin kuat. Fenomena tersebut diprediksi bertahan hingga awal kuartal pertama 2027 dan meningkatkan risiko kekeringan.
Potensi cuaca ekstrem tetap perlu diperhatikan karena perubahan kondisi atmosfer dapat berlangsung cepat. Masyarakat sebaiknya memantau informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG sebelum beraktivitas.
BMKG menjelaskan peringatan dini cuaca merupakan informasi jangka pendek untuk kondisi ekstrem selama nol hingga enam jam. Informasi tersebut diperbarui berdasarkan pemantauan kondisi cuaca terkini.
Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan perlu memperhatikan perkembangan cuaca sebelum bepergian. Pengendara juga perlu meningkatkan kewaspadaan ketika hujan deras disertai angin kencang.
Kondisi cuaca ekstrem dapat meningkatkan risiko pohon tumbang, banjir lokal, longsor, dan gangguan perjalanan. Masyarakat diminta menghindari lokasi yang berpotensi membahayakan ketika cuaca memburuk.
BMKG juga menyediakan informasi potensi cuaca ekstrem hingga tiga hari ke depan. Informasi tersebut mencakup potensi hujan sedang, hujan lebat, hujan sangat lebat, dan angin kencang.
Kewaspadaan perlu dilakukan tanpa menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat. Informasi cuaca sebaiknya diperoleh dari sumber resmi dan tidak berdasarkan pesan berantai.
Dengan meningkatkan kewaspadaan, masyarakat dapat mengurangi risiko akibat perubahan cuaca yang tidak menentu. Keselamatan harus menjadi prioritas ketika kondisi atmosfer menunjukkan potensi membahayakan. (APS/YPA)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....