Bijak Bermedia Sosial ditengah Maraknya Informasi Menyesatkan

  • 24 Agt 2026 07:28 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Media sosial telah menjadi ruang utama masyarakat mendapatkan dan membagikan informasi setiap hari. Namun, derasnya arus informasi juga meningkatkan risiko penyebaran hoaks dan disinformasi.

Kementerian Komunikasi dan Digital menyebut algoritma media sosial dapat membentuk persepsi masyarakat. “Literasi digital jadi benteng menghadapi disinformasi,” demikian keterangan Komdigi pada Juli 2026.

Tantangan tersebut semakin penting karena informasi menyesatkan dapat tersebar dalam waktu singkat. Konten yang viral belum tentu memiliki dasar fakta dan dapat memengaruhi persepsi masyarakat.

Komdigi juga mengingatkan bahwa algoritma platform digital tidak melakukan verifikasi fakta. Kondisi tersebut membuat ruang digital rentan terhadap hoaks, misinformasi, dan disinformasi.

Pada 2026, sejumlah informasi palsu kembali beredar melalui media sosial dan aplikasi pesan. Salah satunya informasi rekrutmen mengatasnamakan BPS yang dinyatakan tidak benar oleh Komdigi.

Situasi tersebut menunjukkan pentingnya kemampuan masyarakat memeriksa informasi sebelum mempercayainya. Pengguna media sosial perlu memastikan sumber, konteks, tanggal, serta keaslian informasi.

Komdigi menyarankan masyarakat berhati-hati terhadap judul provokatif dan mencermati alamat situs. Keaslian foto juga perlu diperiksa sebelum sebuah informasi dipercaya atau dibagikan.

Kebiasaan membandingkan informasi dengan sumber terpercaya juga menjadi langkah penting. Informasi dari media sosial sebaiknya diperiksa melalui media kredibel atau kanal resmi lembaga terkait.

Masyarakat juga perlu menahan diri ketika menemukan informasi yang memancing emosi. Keinginan membagikan informasi dengan cepat sering membuat proses verifikasi terabaikan.

Kementerian Komunikasi dan Digital mengajak masyarakat melawan hoaks melalui penguatan literasi digital. Literasi dinilai penting untuk menghadapi perang informasi dan disinformasi di ruang digital.

Sikap bijak bermedia sosial bukan berarti membatasi kebebasan berpendapat. Sikap tersebut berarti menggunakan kebebasan dengan tanggung jawab dan mempertimbangkan dampaknya.

Pengguna juga dapat melaporkan konten yang diduga mengandung hoaks melalui mekanisme pelaporan platform. Langkah tersebut membantu mengurangi peluang informasi menyesatkan menjangkau lebih banyak orang.

Pada akhirnya, melawan informasi menyesatkan membutuhkan kesadaran setiap pengguna media sosial. Berhenti sejenak, memeriksa fakta, dan berpikir kritis menjadi kebiasaan penting di era digital. (APS/YPA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....