Kasatgaswil Papua Densus 88: Radikalisme Digital pada Anak, Orang Tua Harus Peka
- 24 Agt 2026 19:03 WIB
- Biak
RRI.CO.ID,Biak – Internet membawa manfaat besar, namun juga berisiko membahayakan anak-anak karena kemampuan mereka menyaring informasi belum matang. Hal ini ditekankan oleh Kasatgaswil Papua Densus 88 Anti Teror Mabes Polri, Kombespol Surya Putra Mustika, S.I.K., M.I.K., melalui Dialog RRI Biak terkait "Pencegahan paparan Radikalisme dan Ekstrimis berbasis kekerasan terhadap anak di ruang digital”. Ia mengajak seluruh orang tua di Biak Numfor untuk lebih peka, hadir secara emosional, dan mendampingi anak dalam penggunaan gawai serta dunia maya. Senin 24 Agustus 2026.
Menurutnya, Indonesia termasuk negara dengan penetrasi internet tinggi, dua per tiga lebih masyarakat sudah terhubung jaringan. Internet bersifat netral, bisa berguna namun juga berbahaya. Orang dewasa umumnya punya kemampuan menyaring informasi yang baik, berbeda dengan anak-anak yang mekanisme pertahanan psikologisnya belum sempurna sehingga sangat rentan terpapar konten kekerasan ekstrem, penganiayaan, kekejaman, hingga paham radikal.
“Dampak buruknya setidaknya ada tiga, yaitu anak berpotensi melukai diri sendiri, melukai orang lain, serta menjadi korban eksploitasi seksual maupun identitas di dunia maya,” tegas Surya.
Ia mengatakan dalam 24 jam sehari, orang tua rata-rata hanya berinteraksi berkualitas sekitar 8 jam dengan anak. Sisa waktu anak berada di lingkungan sekolah, pergaulan, atau sendirian berhadapan dengan gawai.
“Bagi anak zaman sekarang, gawai seolah menyatu dengan tubuhnya, reaksi marah meluap-luap saat gawai diambil menjadi tanda kuat bahwa perhatiannya sudah teralihkan berlebihan ke dunia maya, anak lebih mementingkan gawai daripada orantua atau teman-temannya,”ujarnya.
Data dan kasus nyata mengkhawatirkan sudah tercatat, contohnya seperti kekerasan anak terhadap orang tua akibat gawai dilarang, banyak kasus berakar dari anak yang mengalami perundungan di sekolah namun tidak mendapat solusi dari orang tua maupun guru, lalu mencari jalan keluar lewat meniru kekerasan yang dilihat di internet.
“Ditambah lagi anak-anak yang merasa kesepian karena orang tua sibuk sendiri, jarang berbicara dari hati ke hati di rumah, sehingga kurangnya perhatian dan pengawasan kepada ana,”ucapnya.
Ia menyebut, Densus 88 tidak menindak anak terpapar dengan pendekatan hukum keras. Pihaknya lakukan patroli siber, verifikasi data, lalu intervensi berbasis kelembutan, seperti pendampingan psikologis, konseling, melibatkan pekerja sosial, Dinas Sosial, tokoh agama dan adat.
Surya mengapresiasi wilayah Papua yang berada di tingkat waspada sedang (kuning), bukan merah, dan berharap terus membaik berkat peran masyarakat luas. Ia mengingatkan langkah konkret yang bisa dilakukan orang tua, yaitu Peka lebih dulu, Bangun kebersamaan berkualitas, Pahami dunia digital anak, Awasi tanpa mempermalukan, Dekati anak dengan hati.
“Waspadai jika anak lebih mendahulukan gawai daripada orang tua, suka menyendiri, menutup isi gawai dengan keras, atau reaksi meluap saat gawai dibatasI, Kebersamaan di rumah, mengantar-jemput sekolah, makan bersama tanpa memegang gawai jauh lebih ampuh daripada sekadar melarang. kenali permainan, aplikasi, dan risiko yang mereka hadapi, dampingi penggunaan gawai di ruang keluarga, batasi penggunaan gawai, gunakan perangkat bersama di ruang terbuka keluarga, pelukan dan orang tua yang mendengarkan adalah benteng paling kuat agar anak tidak mencari pelarian berbahaya di dunia maya,” ungkapnya.
Kombespol Surya Putra Mustika berpesan bagi generasi muda Biak Numfor, “Masa depan adalah yang kita tentukan sendiri. Bijaklah mengakses informasi, gunakan untuk hal positif yang membangun diri. Jangan biarkan dunia maya merusak masa depanmu.”ucapnya.
Sementara itu, Mama Siska, Sebagai orang tua yang memiliki anak remaja, mengaku seringkali membiarkan anak bermain gawai dan tidak terlalu meperhatikan apa yang diakses, menurutnya dengan penjelasan dari dialog RRI Biak terkait Pencegahan paparan Radikalisme dan Ekstrimis berbasis kekerasan terhadap anak di ruang digital, membuatnya lebih tersadar sebagai orantua harus lebih peka dalam mengawasi anak dalam menggunakan internet.
“Kadang karena sibuk bekerja, kita tidak tau apa yg ditonton dan dimainkan anak di lewat hp, nah seharusnya kami orangtua harus lebih peka, lebih dekat lagi dengan anak-anak agar bisa tau aktifitas mereka, bahkan memahami isi hati mereka agar mencegah anak anak kita dari paparan radikalisme dan ekstrimisme terutama di ruang digital,”ungkapnya.
Pencegahan paparan paham radikal dan kekerasan ekstrim di kalangan anak bukanlah tugas satu pihak saja, melainkan tanggung jawab bersama. Diharapkan seluruh elemen masyarakat di bersatu padu, terus berkoordinasi, dan saling mendukung demi menjaga tumbuh kembang generasi muda yang bebas dari pengaruh paham yang merusak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....