Instruktur Scuba Dive Biak: Perhatikan Kondisi Fisik dan Standar Keamanan

  • 06 Apr 2026 10:36 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak - Kabupaten Biak Numfor dikenal sebagai surga tersembunyi di ujung timur Indonesia. Keindahan alam bawah lautnya yang luar biasa, mulai dari terumbu karang yang mempesona, kekayaan biota laut, hingga keunikan berupa bangkai kapal peninggalan Perang Dunia II, menjadikan wilayah ini incaran para pecinta diving dari seluruh dunia.

Instruktur Scuba Dive Biak, Yudith mengatakan wisata selam di Biak sebenarnya sudah berkembang sejak lama. Seiring berjalannya waktu, pertumbuhannya semakin pesat ditandai dengan menjamurnya diving center dan peningkatan kunjungan wisatawan yang datang khusus ke Biak Numfor maupun Supiori, dan sekitarnya.

"Biak punya keunikan luar biasa. Tidak banyak tempat di dunia yang menyajikan koral, ikan, ditambah dengan wreck atau peninggalan perang dunia kedua secara lengkap. Itu menjadi keunggulan kita dan ini menarik wisatawan,"ujarnya saat Dialog Interaktif bersama RRI Biak.

Berbicara terkait safety atau keamanan penyelam, ia menegaskan bahwa pihaknya telah menerapkan standar yang ketat, dengan tergabung dalam World Recreational Training Scuba Council (WRTC), sehingga seluruh prosedur yang digunakan sudah mengikuti aturan internasional yang berlaku global.

"Selain aturan internasional, kami juga mengacu pada Keputusan Menteri Tenaga Kerja Tahun 2017 Nomor 37 yang mengatur tentang standar keselamatan dan uji kompetensi," jelasnya.

Menurutnya, hal paling mendasar dimulai dari diri sendiri, harus yakin kondisi fisik dan mental sehat. Kemudian yang paling penting adalah standar pelatihan. Menyelam tidak bisa dilakukan sembarangan namun pentingnya sertifikasi layaknya memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM).

"Ibarat naik kendaraan, kalau tidak punya SIM, apapun yang terjadi di jalan, kita yang salah. Sama dengan menyelam. Kalau tidak punya sertifikat, berarti tidak punya legalitas dan kompetensi, kalau terjadi sesuatu, itu akan jadi masalah besar," tegasnya.

Sementara itu, David Adrian Saiya, Instruktur Scuba Dive Biak, juga menambahkan bahwa Biak menyimpan potensi besar untuk cave diving atau penyelaman di gua-gua bawah laut yang masih belum banyak tereksplorasi.

Dari pengalaman di lapangan, Ia menyebut faktor utama yang sering menyebabkan insiden atau kecelakaan saat menyelam adalah poor judgment atau penilaian yang salah. Kesalahan yang sering terjadi adalah pelanggaran terhadap batasan standar.

"Misalnya, penyelam level Open Water yang batas maksimalnya 18 meter, namun karena terlalu asyik, akhirnya menyelam lebih dalam dari ketentuan. Itu memunculkan potensi risiko yang bisa mengakibatkan kecelakaan. Selain itu, faktor peralatan yang tidak dicek sebelum dipakai juga berbahaya," tambahnya.

Oleh karena itu, prosedur wajib sebelum turun ke air adalah melakukan pengecekan menyeluruh (checklist), mulai dari kondisi fisik diri sendiri, peralatan, hingga kondisi arus laut yang akan dihadapi.

"Kami selalu lakukan briefing dulu. Jika kondisi dirasa tidak aman, kami tidak ragu membatalkan penyelaman. Dalam diving ada dua objektif: primary objective adalah keselamatan, sedangkan eksplorasi atau dokumentasi itu hanya sekunder. Jadi safety tetap nomor satu," jelas David.

Hingga saat ini, menurut catatan di lapangan, insiden serius jarang terjadi. Paling hanya kondisi panik atau ketidaknyamanan yang masih bisa diatasi dengan prosedur penanganan yang benar.

Dengan penerapan standar internasional dan kesadaran akan risiko, diharapkan wisata selam di Biak dapat terus berkembang namun tetap menjamin keselamatan bagi setiap pengunjung.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....