Bandara Biak Didorong Jadi Pusat Perawatan Pesawat di Wilayah Timur
- 30 Sep 2025 05:04 WIB
- Biak
KBRN,Biak: Bandara Frans Kaisiepo Biak,Papua berpotensi menjadi pusat MRO (Maintenance, Repair & Overhaul) untuk wilayah timur Indonesia.
GM Angkasa Pura Bandara Fran Kaisiepo Biak, Iwan Sanusi Libere menyebut terutama untuk tipe pesawat turboprop dan narrow-body, berdasarkan beberapa kekuatan seperti. landasan sangat panjang,mampu menampung widebody, posisi geopolitik strategis di kawasan Papua/Pasifik, dan kepadatan rute domestik ke kota-kota timur.

GM Angkasa Pura Biak,Iwan Sanusi bersama Bupati Biak Numfor,Markus O Mansnembra
"Dari potensi yang dimiliki bandara ini, ada hambatan nyata yaitu belum adanya fasilitas MRO besar di lokasi saat ini, kebutuhan modal, ketersediaan SDM terlatih, rantai suku cadang, dan persaingan/keputusan regulasi,"ujar Iwan Sanusi Libere,Selasa (30/9/2025).
Sejumlah catatan terkait pro-kontra, dan langkah praktis untuk melanjutkan ide ini yakni adanya fakta teknis dan konteks utama bahwa:
1. Frans Kaisiepo memiliki runway panjang ±3.571 m dan cukup untuk sebagian besar pesawat komersial termasuk narrow-body dan beberapa widebody untuk kebutuhan tertentu.
2.Status dan penggunaan: bandara juga dipakai atau berbagi area dengan fasilitas militer dan pernah memiliki status internasional (ada dinamika regulasi status internasional beberapa tahun terakhir), yang memberi implikasi pada aspek keamanan, bea cukai, dan prosedur operasional.
3.Pemain MRO di Indonesia: ada perusahaan besar seperti GMF AeroAsia yang menguasai kapasitas MRO di Jawa/Banten; tren investasi MRO di Indonesia menunjukkan fokus pada hub regional tetapi pasar di timur relatif under-served.
4.Jarak atau akses ke pasar timur: Biak relatif dekat secara terbang ke beberapa pusat di Papua dan kawasan Timur ,contohnya Jayapura ≈ 510 km / ~1–1.5 jam.
Iwan Sanusi Libere menambahkan bandara Frans Kaisiepo Biak juga memiliki potensi besar untuk menjadi hub internasional yang menghubungkan Papua dengan negara-negara tetangga di kawasan Pasifik.
"Selama ini, sejumlah penerbangan internasional ke Biak hanya bersifat irreguler atau charter. Padahal, dengan jarak tempuh hanya 2–3 jam ke Port Moresby (PNG), Darwin (Australia), atau Koror (Palau), peluang untuk menjadikannya rute reguler sangat terbuka.,"ujarnya
Skema awal dapat dimulai dengan penerbangan mingguan, yang secara bertahap ditingkatkan menjadi penerbangan reguler bila permintaan penumpang dan kargo terus tumbuh,"ucap Iwan Sanusi mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....